Hal-hal yang Membuyarkan Konsentrasi

Saat sedang bekerja atau melakukan sesuatu kadang dibutuhkan konsentrasi penuh. Namun tanpa disadari ada hal-hal disekitar yang justru berperan sebagai perusak atau pembunuh konsentrasi.

Seperti dikutip dari WebMD, Kamis (6/1/2011) salah satu gangguan seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) memang bisa membuat seseorang sulit berkonsentrasi. Tapi ada hal-hal tertentu di sekitar yang bisa mengganggu atau membuyarkan konsentrasi, yaitu:

Lapar
Lapar akan membuat otak tidak mendapatkan bahan bakar yang cukup sehingga membuat seseorang sulit konsentrasi, bahkan menjadi pembunuh utama konsentrasi. Berikanlah otak sumber bahan bakar yang cukup dengan cara selalu mengonsumsi sarapan, mengonsumsi makanan yang kaya protein, menghindari karbohidrat sederhana tapi pilihlah karbohidrat kompleks.

Sosial media

Psikolog Lucy Jo Palladino, PhD menuturkan sosial media membuat seseorang sangat mudah terhubung dengan teman-teman dan lepas dari pekerjaan. Saat ini marak sekali penggunaan sosial media seperti Facebook atau Twitter yang membuat seseorang menunda pekerjaannya. Untuk itu hindari masuk ke situs sosial media saat bekerja atau carilah tempat yang tidak ada akses internet, dan jika terpaksa harus membukanya lakukanlah selama waktu istirahat.

Telepon seluler
Terkadang dering telepon bisa merusak konsentrasi seseorang saat bekerja dan menerima telepon untuk sesuatu yang tidak penting hanya akan menghabiskan waktu saja. Untuk itu gunakan ID panggilan, jika diketahui panggilan tersebut tidak mendesak maka biarkan saja masuk ke dalam kotak suara dan tidak perlu mengangkatnya.

Melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking)
Penelitian menunjukkan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus akan membutuhkan waktu lebih lama dibanding dikerjakan satu per satu, karena perhatian atau fokus yang diberikan terbagi-bagi. Meskipun ada beberapa orang yang memang bisa melakukannya dengan baik. Untuk itu berilah prioritas pekerjaan yang akan dilakukan, lalu kerjakan tugas satu per satu berdasarkan prioritas yang dibuat.

Bosan dan lelah
Kebosanan yang dialami bisa membuat seseorang rentan terhadap gangguan sehingga membuyarkan konsentrasi. Untuk mengatasinya ambilah waktu istirahat 10 menit setelah melakukan pekerjaan dalam jangka waktu tertentu, misalnya dengan berjalan-jalan ke luar atau mendengarkan radio. Sedangkan kelelahan akibat kurang tidur atau terlalu banyak aktivitas bisa mengganggu konsentrasi dan memori jangka pendek.

Stres
Ketika seseorang memiliki terlalu banyak pikiran atau stres akan membuatnya sulit berkonsentrasi pada tugas yang dilakukan, karena hormon yang dikeluarkan saat stres bisa menghambat kerja otak. Selain itu stres juga memicu sakit kepala, sakit pada punggung dan bahu serta detak jantung yang cepat. Untuk itu pelajari teknik mengurangi stres seperti meditasi, sehingga bisa kembali fokus dan konsentrasi terhadap pekerjaan.

Pengaruh obat
Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati depresi atau obat lainnya bisa mengganggu konsentrasi. Jika konsentarsi sering buyar atau terganggu sejak mengonsumsi satu obat, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter

Sumber : detikHealth

Iklan

Sepuluh Cara Berhemat

Ada sepuluh ide untuk melakukan penghematan dengan cara sederhana, yang mudah dilakukan tanpa harus menjadi pelit.

1. Bawa air minum
Membeli air minum dalam kemasan tak hanya menambah sampah plastik tapi juga memboroskan uang. Bayangkan, jika dalam sehari Anda membeli sebotol air minum dengan harga Rp 3000, dalam sebulan Anda menghabiskan Rp 90 ribu. Sebagai gantinya, belilah botol minum sendiri — yang bisa diisi ulang.

2. Membawa daftar belanjaan
Buatlah daftar belanjaan sebelum pergi berbelanja ke toko. Pastikan daftar Anda hanya berisikan barang-barang yang memang Anda butuhkan. Hanya barang yang masuk daftar yang boleh dibeli, lainnya tidak.

3. Berjalan kaki lebih sering
Cobalah jalan kaki jika tujuan Anda cukup dekat. Kurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan gunakan kendaraan umum. Anda juga bisa mencoba memberi tumpangan dengan teman yang searah.

4. Manfaatkan perpustakaan
Anda tidak perlu senantiasa membeli buku baru. Kunjungilah perpustakaan untuk mencari buku yang diperlukan.

5. Kurangi makan di luar
Usahakan memasak dan membawa bekal makan siang untuk di kantor. Memasak akan menghemat banyak biaya dibandingkan selalu makan di luar.

6.Jauhi ATM asing
Menarik uang dari bank selain bank Anda bisa menyebabkan pemotongan uang dari rekening. Jumlahnya bervariasi mulai dari Rp 3000 hingga Rp 20 ribu. Nilai ini nampaknya kecil, tapi bayangkan jumlah totalnya jika sering dilakukan.

7. Membuat kopi sendiri
Daripada membeli kopi mahal di kafe, lebih baik minum kopi buatan sendiri. Sedikit-sedikit mengirit lama-lama jadi bukit.

8. Kurangi ke mal
Jalan-jalan ke mal bisa mendatangkan banyak godaan untuk membeli barang secara impulsif. Maka itu, lebih baik habiskan waktu libur dengan piknik ke taman atau museum.

9. Manfaatkan kartu diskon
Beberapa toko menawarkan diskon bagi pelanggan yang punya kartu anggota. Manfaatkan hal ini dengan bijak. Awas, ini berbeda dengan membeli barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

10. Daur ulang
Kreatiflah: ada banyak ide yang bisa dilakukan untuk mendaur ulang barang yang tak digunakan lagi. Misalnya, memadukan pakaian lama dengan baju lain sehingga menjadi lebih menarik.

Anda punya ide lain?

Sumber : Yahoo! News

Penjajahan Terselubung

neh email bagus yg lama kesimpan di inbox

Tau ga seh looo……

Pemilik 65 persen saham ABC adalah HJ Heinz (AS). Sariwangi, Bango, dan Taro sudah 100 persen milik Unilever (Inggris). Aqua, 74 persen dikuasai Danone (Prancis). Helios dan Nyam-Nyam total dipegang Cambell (AS). Ades milik Cocacola. SGM lewat Sari Husada 82 persen dimiliki Numico (Belanda).

Kalaupun Anda tidak menyadarinya, tak perlu khawatir, Anda tidak sendirian. Banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa ternyata produk-produk terkenal bermerek lokal itu sudah jatuh ke tangan asing lewat langkah akuisisi, entah ekuisi total atau mereknya saja.

Dan kondisi seperti itu bukan cuma di bidang barang konsumsi (consumer goods). Nyaris di semua bidang usaha, asing sudah mengangkanginya. Ibaratnya, si asing ini sudah sempurna dalam mengisi sendi-sendi kebutuhan hidup kita. Mulai dari suprastruktur sampai finansial.

Anda membangun rumah, misalnya, maka Anda butuh semen. Mau semen Tiga Roda bikinan Indocement maupun Semen Gresik, semuanya sudah dikuasai asing. Indocement dipegang Heidelberg Jerman, sedangkan Semen Gresik oleh Cemex Meksiko.

Begitu juga saat berhubungan dengan bank. BCA sudah digenggam konsorsium asing Farallon (meski di dalamnya ada Grup Jarum). Danamon juga sudah melayang ke asing, saat ini dikuasai Asia Financial Indonesia (AFI), yang merupakan konsorsium Deutsche Bank dan Temasek Singapura.

Barangkali selama ini Anda merasa sudah nasionalis karena sebagian kebutuhan hidup memakai produk bermerek lokal. Tapi kuburlah saat ini rasa nasionalis itu. Merek lokal sudah tidak jaminan lagi dimiliki oleh orang lokal. Merek lokal yang skalanya sudah menasional, banyak yang berpindah tangan.

Memang, ada yang berpendapat bahwa asing tidaklah masalah, toh mereka tetap membayar pajak, membuka lapangan kerja, dan menumbuhkan perekonomian nasional. Betul, tapi masalahnya, apakah kita tidak nelangsa kalau semua produk yang dikonsumsi demi keuntungan asing.

Repatriasi (pemulangan) keuntungan yang dibawa oleh perusahaan asing ke negeri masing-masing sangatlah besar. Belum ada data resmi. Tapi, ada yang memperkirakan bahwa per tahun repatriasi ini bisa mencapai belasan miliar dolar. Taruhlah 10 miliar dolar saja, itu berarti sudah Rp 85 triliun.

Kalau saja perusahaan asing tersebut memang sejak awal menanamkan modal lewat PMA (penanaman modal asing) tak begitu masalah. Di kasus ini, perusahaan asing tersebut tinggal membeli perusahaan lokal yang pasarnya sudah jadi dan tinggal memetik keuntungan.

Kecenderungan itu klop dengan kebijakan “Meganomics” yang bermental pedagang. Ada barang bagus dijual. BCA bagus dijual. Indosat bagus dilego. Dan masih banyak yang lain. Pada gilirannya, nanti kita akan kerepotan karena begitu banyak dolar yang keluar dari sini akibat dari repatriasi ini.

Jika Anda memakai atau mengonsumsi merek lokal, cari tahulah siapa pemiliknya. Dan, kelak akan semakin sering Anda berguman, “Oo … asing to?” (r_rizalino@)

Bila Kulit Putih dan Bibir Tipis menjadi Ukuran

Mengapa kecantikan perempuan Indonesia selalu diukur dari kulit putih sempurna, badan yang langsing-kurus, bibir tipis, dan vagina yang rapet?

Coba simak iklan-iklan di TV, koran, majalah, dan tabloid wanita yang beredar. Banyak sekali iklan yang ditujukan untuk perempuan yang erat kaitannya dengan kecantikan fisik. Iklan tersebut selalu berkaitan dengan berbagai cara untuk memutihkan kulit, menghilangkan selulit, menipiskan bibir, membesarkan payudara, mempersempit vagina, menurunkan berat badan, hanya beberapa yang mengiklankan tentang cara untuk menambah berat badan, dan banyak juga iklan yang memberikan jasa untuk jimat-jimat agar disayangi suami/pacar atau bos. Banyak juga ragam iklan yang tujuannya untuk mempercantik perempuan secara fisik.

Mengapa ukuran kecantikan perempuan hanya dilihat dari keadaan fisik?

Bukankah seorang perempuan juga mempunyai hati nurani, intelegensia, kepribadian dan ‘inner beauty’ yang dapat menjadikannya mempunyai kecantikan yang abadi?

Tidak semua perempuan dilahirkan cantik sebagaimana image yang sudah dikonstruksikan secara sosial. Apakah perempuan yang dilahirkan dengan tidak membawa kecantikan tersebut harus hidup dengan perasaan rendah diri dan mencoba untuk “mengkonstruksikan kecantikannya” dengan berbagai cara yang mungkin saja dapat merugikan kesehatannya?

Ambil contoh bintang film, pemain sinetron dan bintang iklan Indonesia. Umumnya yang dapat dikatakan berhasil, terus dipakai dan dijadikan idaman penonton adalah perempuan Indonesia yang berwajah “kebarat-baratan” alias blasteran. Mereka adalah perempuan yang berkulit putih, hidung macung dan mempunyai badan yang tinggi semampai. Demikian juga dengan ratu atau puteri Indonesia, yang memang selalu saja mempunyai kriteria fisik seperti di atas. Jarang sekali perempuan yang mempunyai wajah asli Indonesia dapat meraih mahkota yang dipertandingkan.

Ukuran kecantikan perempuan Indonesia adalah sesuatu yang sangat subjektif dan berbeda dari orang ke orang. Namun, dapat dikatakan bahwa laki-laki Indonesia umumnya akan mengatakan bahwa perempuan cantik adalah kalau kulitnya kuning langsat atau putih, berbadan langsing dan tinggi, hidung mancung, rambut panjang dan tebal, dan sebagainya. Bagi laki-laki yang sudah menikah, seorang isteri yang ideal juga harus pintar melayani suami di ranjang dan mempunyai vagina yang tetap seperti perawan, sempit, kering dan tidak berlendir serta perat walaupun sudah melahirkan anak. Nah, semua ini sebenarnya adalah konstruksi sosial yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi dan dimanfaatkan oleh industri dan media massa untuk mengeruk keuntungan.

Sebenarnya ukuran kecantikan seorang perempuan dan ketampanan seorang laki-laki adalah satu bentuk konstruksi sosial yang kita pelajari sejak kecil dan diturunkan dari generasi ke generasi. Peran sosial budaya yang diasosiasikan dengan peran gender ini disosialisasikan oleh orangtua, keluarga, famili, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat, juga oleh pendidikan melalui sekolah dan guru-guru serta negara. Tanpa kita sadari konstruksi sosial tersebut sudah merasuk ke dalam pikiran, tata nilai yang ada dalam diri dan aliran darah kita.

Karena konstruksi sosial tersebut kita pelajari, apakah mungkin untuk “unlearnt” atau menetralisasi konstruksi sosial yang berlaku dalam masyarakat dan ada dalam pikiran kita? Seharusnya jawabannya adalah simple, yaitu “tentu saja bisa”. Peran-peran gender yang sudah mengkristal di masyarakat dan dalam diri kita seharusnya dapat diubah, tetapi karena yang terkonstruksi dengan nilai, tradisi dan kebiasaan gender adalah bukan saja diri kita, tetapi seluruh penduduk yang tinggal di Indonesia, dan tentunya juga negara lain maka untuk mengubah tatanan itu tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk menetralisasi atau unlearnt peran atau nilai gender yang sudah dikonstruksikan tersebut akan memakan waktu yang lama.

Laki-laki dan perempuan harus juga mau mengubah kebiasaan serta perilaku yang dapat mengurangi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam usaha untuk meredefinisikan pengertian gender dalam masyarakat.

Menurut seorang pakar feminis Indonesia Julia Suryakusuma dalam seminar tentang bukunya yang berjudul Sex, Power and Nation Revisited yang diadakan di Indonesian Study Group, Australian National University, Canberra, memang sepertinya tidak mungkin untuk menetralkan hal-hal tersebut, apakah itu nilai atau ideologi yang sudah mendarah daging dalam diri kita, terutama yang berhubungan dengan gender. Ambil saja contoh yang diberikan oleh Julia, seumpamanya Julia mempunyai seorang suami yang berfungsi sebagai house husband dan berperan sebagai bapak rumah tangga, sementara Julia harus membanting tulang di luar rumah untuk membiayai keluarga, maka ia akan tidak bahagia. Hal ini disebabkan gender rules yang ia pelajari adalah peran suami bertanggung jawab terhadap kelangsungan ekonomi keluarga, walaupun perempuan boleh saja mengembangkan kariernya dan secara mandiri menambah kesejahteraan ekonomi keluarga. Tetapi, menurutnya, bisa saja seorang laki-laki Indonesia menjadi seorang feminis dan mempunyai sifat egaliter terhadap tugas-tugas keluarga yang berhubungan dengan pekerjaan domestik rumah tangga seperti memasak, cuci piring dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan keadaan lainnya, misalnya nilai-nilai yang sudah diterima oleh masyarakat bahwa laki-laki boleh berselingkuh, mempunyai simpanan isteri muda dan tetap mempertahankan perkawinannya dengan isteri yang pertama? Apakah peran yang demikian juga akan dapat diterima oleh masyarakat jika seorang perempuan menginginkan pacar atau suami yang jauh lebih muda, atau hanya menginginkan part time partner/husband dalam hubungan percintaannya sebagai layaknya laki-laki mempunyai isteri simpanan?

Apakah hal ini dapat diterima oleh masyarakat dan kalangan religius?
Jawabannya, tentu saja, tidak. Hal ini sangat bertentangan dengan konstruksi sosial yang sudah diturunkan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Sehingga nilai yang berlaku adalah laki-laki boleh poligami, mempunyai banyak hubungan affairs, menjalin hubungan seksual atau percintaan dengan gadis yang jauh lebih muda, sedangkan hal tersebut tidak dapat ditoleransi bila terjadi pada perempuan.

Demikianlah kekompleksan konstrusi sosial dan oleh karena itu akan sulit untuk diubah. Akan tetapi, menurut saya, karena konstruksi sosial adalah sesuatu yang dipelajari, maka saya sangat percaya bahwa konstruksi sosial tersebut dapat diubah dan dinetralkan kembali atau – “unlearnt” agar hubungan antara perempuan dan laki-laki lebih egaliter dan tidak terjadi ketimpangan status sosial ekonomi atara perempuan dan laki-laki.

Tentunya upaya itu akan memakan waktu lama. Konstruksi sosial yang “baru” harus dimulai dari rumah, di mana ibu dan ayah tidak membeda-bedakan tugas rumah tangga dan tanggung jawab yang diberikan pada anak laki-laki maupun perempuan. Selain itu, pendidikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan harus juga dimasukkan dalam kurikulum sekolah seperti yang telah mulai dilakukan di beberapa Sekolah Menengah Atas di Jakarta.

Kalangan bisnis baik industri besar maupun kecil, media cetak, TV dan radio melalui advertensi-advertensi yang dipaparkan secara terus menerus telah memanfaatkan peran dan definisi gender yang berlaku di negeri kita untuk mempropagandakan berbagai produk yang berhubungan dengan kecantikan dan kesehatan perempuan. Sedemikian ahlinya mereka sampai membuat banyak kaum hawa menjadi korban iklan dan produk yang menjanjikan jaminan kecantikan bagi pemakainya tersebut, biarpun tanpa menghiraukan dampak kesehatan yang mungkin dapat ditimbulkan dari produk dan jasa yang dipasarkan.

Coba tinjau iklan-iklan yang berbunyi: Anda ingin kulit putih seperti Michael Jackson, kulit putih sempurna, putih bersih, lebih putih-lebih PeDe, tampil cantik seputih anganku, bibir tipis, hidung mancung, membesarkan payudara, puting susu warna merah jambu, menguruskan badan, meninggikan badan, vagina rapet seperti perawan dan sebagainya. Bukankah kulit putih seperti Michael Jackson sudah merupakan sesuatu yang tidak normal dan “penyakit” – karena kulit Michael Jackson aslinya adalah hitam pekat?

Sudah banyak berita yang mempublikasikan tentang kegagalan operasi kecantikan yang dilakukan di salon-salon kecantikan, ada juga pengguna jasa operasi kecantikan yang berakhir dengan keadaan yang cukup fatal. Masih ingat operasi payudara di salon kecantikan yang membawa maut, atau operasi hidung yang gagal karena bukan ditangani oleh dokter? Contoh di atas adalah upaya yang banyak dilakukan oleh perempuan Indonesia dari berbagai status ekonomi yang dapat membahayakan kesehatannya. Mereka rela mengorbankan kesehatannya demi kecantikan fisik yang artifisial.

Hal yang memprihatinkan juga adalah merebaknya medikalisasi praktik gurah vagina dan operasi vagina yang ditangani oleh tenaga-tenaga medis. Memang dalam hal ini bila dikerjakan oleh tenaga medis tentunya lebih terjamin prosedurnya. Tetapi apakah hal-hal ini perlu untuk dilakukan? Bukankan ini justru akan melegitimasi konstruksi sosial yang sudah berlaku dan semakin memperkuat nilai-nilai sosial bahwa vagina yang rapet, peret dan kering akan memberi kepuasan seksual yang optimal pada laki-laki? Nilai keperawan seorang gadis sangat menentukan hubungan perkawinannya tetapi tidak demikian dengan keperjakaan. Buktinya merebaknya klinik-klinik dokter spesialis yang memberikan pelayanan operasi pemulihan selaput keperawanan. Padahal, dampaknya dapat saja sangat merugikan perempuan.

Banyak studi yang sudah dilakukan di luar negeri mengatakan bahwa vagina yang kering dapat memperbesar kemungkinan terjadinya goresan-goresan pada vagina yang dapat memperbesar kemungkinan perempuan tertular SDTs/HIV/AIDS.
Perkumpulan ginekologi Amerika juga menganjurkan perawatan vagina secara natural dan sederhana, di mana perempuan harus menjaga kebersihan dan keadaan kering/tidak basah di sekitar vagina dan mencucinya dengan air dan bila menggunakan sabun sebaiknya menggunakan sabun dengan kadar ph yang rendah. Vagina secara alami mempunyai mekanisme untuk menjaga kebersihan dan kesehatannya. Bahan-bahan, produk-produk atau jamu-jamuan yang digunakan langsung pada vagina dan daerah sekitarnya justru dapat merusak mekanisme alamiah ini.*

Dr. Iwu Dwisetyani Utomo
Iwu.Utomo@anu.edu.au
staff peneliti dan dosen pascasarjana di National Centre for Epidemiology and Population Health serta di Demography and Sociology Program, Australian National University, Canberra, Australia.

Bunuh Diri, Luar Biasa dan Masih Misteri

BELAKANGAN, kasus bunuh diri kembali marak di Jakarta dan sekitarnya. Modusnya pun variatif, seperti meloncat dari ketinggian, minum racun tikus, menggantung leher dengan tambang, hingga yang paling menggiriskan, membakar dirinya sendiri hingga gosong dan tewas.

Psikolog senior lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sartono Mukadis, mempunyai jawaban atas berbagai peristiwa itu.

BUNUH diri”, sebuah kata yang tidak asing lagi bagi pendiri dan penyiar radio swasta mahasiswa Radio Pancasila Yon A Yani ini. “Pasien pertama saya sewaktu masih mahasiswa juga bunuh diri. Jadi, saya tidak heran lagi,” kata Sartono, kelahiran Jakarta, 20 Desember 1945, ini.

Bapak tiga anak yang juga Ketua Masyarakat Peduli Betawi dan mempunyai hobi jalan-jalan ini juga menyimak berbagai kasus bunuh diri di Jakarta akhir-akhir ini, juga di Batam yang menurut dia cukup tinggi. Namun, menurut dia, bunuh diri di kota-kota besar di Jepang masih lebih tinggi.

Berikut petikan wawancara Sartono Mukadis dengan Kompas di rumahnya yang asri dan sejuk di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan, pekan lalu.
Bagaimana menjelaskan mengapa orang bisa nekat bunuh diri? Apakah ada teori yang bisa menjawab masalah ini?
Ada banyak teori mengenai mengapa orang nekat bunuh diri. Ada bunuh diri absurditas, bunuh diri eksistensialis, bunuh diri karena patologis, atau bahkan karena alasan romantisme dan heroisme. Namun, itu hanya teori karena sampai sekarang pun, bunuh diri tetap masih menjadi misteri, dan penjelasannya bisa kasus per kasus.

Misalnya?
Saya ambil contoh keluarga Hemingway. Ernest Hemingway mati karena bunuh diri. Ternyata, kakek dan pamannya juga melakukan hal yang sama. Kalau dicermati, apa yang dilakukannya itu tanpa sebab, tidak ada bukti depresi. Apakah ini masalah genetis? Dalam kasus ini saya rasa adalah masalah eksistensi. Hemingway yang penulis hebat itu melakukan hal itu karena modus eksistensi. Ia ingin mengakhiri eksistensi dirinya dengan cara bunuh diri. Namun, modus seperti ini memang hanya dilakukan oleh sebagian kecil orang.

Di dalam masyarakat modern atau hipermodern, ada orang yang membayangkan bunuh diri sebagai sesuatu yang romantis. Misalnya seperti film Ghost. Orang membayangkan, jika saya mati, saya akan bisa seperti sosok dalam Ghost, bisa melihat kejadian di dalam dunianya dulu. Pada anak kecil, bunuh diri bisa dikaitkan dengan unsur heroisme, dia memahlawankan kematian, seperti yang dilihatnya dalam film-film.

Yang namanya bunuh diri, bukankah orang itu melakukannya dengan sadar?
Itulah mengapa bunuh diri saya sebut sebagai hal yang luar biasa. Bayangkan, orang mengakhiri hidupnya dengan kesadaran penuh. Bahkan, ada yang didasari berbagai pertimbangan, bahwa dia akan memperoleh sesuatu yang belum pernah didapatkan seumur hidupnya. Setelah mati, dia akan ditangisi dan dihormati seumur hidupnya.

Luar biasa, sebab dia bisa berkewenangan menyetop hidupnya sendiri. Saya belum melihat ini pada hewan, namun jelas tidak terjadi pada tumbuhan.

Apakah pelaku bunuh diri bisa dikatakan mempunyai penyakit kejiwaan? Apakah hal itu dilakukan dengan spontan? Mengapa orang sampai bisa menyiapkan segala sesuatunya sebelum bunuh diri?
Dalam teori psikologi perilaku, bunuh diri sebenarnya adalah kepanikan atau letupan sesaat, sebuah dorongan yang tiba-tiba. Antara terpicu dan bertindak hanya berlangsung sekejap, dalam hitungan detik, menit, atau jam, namun tidak dalam hitungan hari. Orang berada dalam emosi yang sangat memuncak sebelum akhirnya dia mengakhiri hidupnya. Jarang sekali orang sampai berpikir dua sampai tiga kali sebelum bunuh diri, kecuali ada obsesi kompulsif yang terus berulang. Ia terobsesi untuk mengakhiri hidupnya.

Belum ada satu pun literatur yang menyebutkan teori mengenai bunuh diri yang dipersiapkan, namun ternyata hal itu ada. Saya juga tidak tahu mengapa ada orang yang berpikir dulu, mengambil racun, membeli tambang ke pasar, menyimpul tambang itu, mencari plafon yang kuat.

Mengapa ada orang memilih melompat dari bangunan tinggi, sementara orang lain memilih membakar diri? Bisakah Anda menjelaskannya?
Itu tergantung pengalaman, pendidikan, dan kedekatan atau kesempatan. Kalau dia tinggal di gedung tinggi dan tidak ada alat untuk bunuh diri di saat dia sedang dalam kondisi emosi yang memuncak, yang paling mudah adalah meloncat. Namun, pada orang lain, mungkin dipengaruhi oleh buku yang kerap dibacanya atau tayangan yang kerap ditontonnya.

Apakah setiap orang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri?
Bunuh diri bukan hanya bisa dilakukan orang yang sakit patologis saja, tetapi juga bisa dilakukan oleh orang normal. Setiap orang normal juga punya kecenderungan untuk bunuh diri. Tergantung seberapa besar tingkat kelenturan kepribadian yang dimiliki seseorang. Orang yang kepribadiannya kaku lebih mudah melakukan bunuh diri jika ada perubahan-perubahan tidak menyenangkan yang terjadi pada dirinya. Sedangkan orang dengan kepribadian fleksibel lebih bisa mengendalikan kekecewaannya.

Misalnya, saya punya uang Rp 1.000 saja masih bisa ketawa-ketawa, sedangkan orang lain kehilangan Rp 1 miliar saja sudah merasa bangkrut dan bisa bunuh diri. Ambang kelenturan seseorang itu macam-macam. Semakin kaku semakin mudah patah.

UNTUK mengatasi tekanan sosial dan ekonomi di Jakarta ini, apa yang harus kita lakukan?
Adaptasi. Artinya, jangan terlalu kaku dalam menghadapi hidup ini. Hidup tak bisa dipandang secara hitam putih. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita harus bisa disikapi secara fleksibel. Dengan cara seperti itu kita akan survive dari tekanan-tekanan hidup.

Bagaimana caranya menanamkan kelenturan pada seseorang.
Kelenturan itu bisa diajarkan sejak masa kanak-kanak. Ketika anak sudah memasuki taman kanak-kanak harus diajarkan untuk bisa mengatasi masalahnya sendiri. Jangan mau “diperas” anak yang meminta agar semua keinginannya selalu dipenuhi. Dengan cara seperti itu, anak akan terbiasa berpikir kreatif alternatif. Anak dibimbing untuk mencari jalan keluar lain untuk mengatasi masalahnya. Kelak jika dewasa, ia akan memiliki ambang kelenturan yang tinggi.

Untuk melatih kelenturan, anak bisa diajarkan untuk berani menertawakan diri sendiri. Cara itu dilakukan agar anak terlatih menghadapi kegagalan. Yang kedua, jangan pernah membanding-bandingkan anak dengan anak lain karena hanya akan memunculkan tekanan psikologis. Yang benar, bandingkan anak itu dengan dirinya sendiri. Misalnya, “Nak, mengapa nilainya sekarang lima? Cawu lalu nilaimu bisa tujuh, kan”. Jangan sampai bilang, mengapa nilai anak itu lebih jelek dengan tetangga sebelah, misalnya.

Banyaknya kasus bunuh diri mengindikasikan apa?
Bunuh diri menandakan masyarakat kita sedang sakit. Kasus bunuh diri ini banyak terjadi di kota-kota besar.

Mengapa di kota besar seperti Jakarta?
Jakarta ini lebih berbentuk kerumunan (crowd) sehingga banyak orang yang kehilangan komunikasi satu sama lain. Bandingkan dengan orang yang hidup di kampung atau pedesaan. Dengan budaya seperti petan (mencari kutu rambut) yang mereka miliki, masing-masing orang bisa mengungkapkan persoalan yang dihadapinya dengan orang lain. Orang bisa mendengarkan dan didengarkan.

Di Jakarta, jutaan orang seolah tercerabut dari akarnya. Keakraban antarwarganya kurang terjalin dengan baik. Sempitnya ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan oleh warga untuk bersosialisasi ikut memengaruhi itu. Sedangkan bentuk komunitas sekarang ini lebih bersifat formal dan kurang bisa mengakomodasi kebutuhan psikologis anggotanya. Alangkah baiknya jika radio-radio swasta lebih sering mengudarakan acara curhat, lebih bicara dari hati ke hati.

Budaya ngrumpi itu sebenarnya baik, namun ngrumpi di Jakarta sudah mengalami metamorfosis, dan lebih kepada obrolan kosong. Tidak ada sharing dan caring. (Susi Ivvaty/ Lusiana Indriasari)

Segitiga Kehidupan Saat Terjadi Gempa

Indonesia – negeri Jamrud Khatulistiwa – diyakini merupakan pewaris Atlantis, benua yang hilang sekian abad lampau. Bukan hanya mewarisi kekayaan alam namun Indonesia juga mewarisi rangkaian bencana alam yang dulu pernah menenggelamkan Atlantis. Serangkaian gempa bumi dahsyat disambung dengan rentetan letusan gunung berapi telah memecah Atlantis menjadi ribuan pulau besar-kecil.

Berikut ini file yang bisa menjadi bahan pelajaran dalam menghadapi gempa: Segitiga_Kehidupan.pps (untuk men-donlot klik kanan trus pilih “Save Link AS…” ato “Save Target”)

Mencegah Mountain Sickness

Mendaki gunung merupakan aktivitas yang cukup mengasyikkan karena termasuk kegiatan yang bersifat rekreatif dan sportif. Dikatakan termasuk olah raga karena pendakian gunung sealu dilakukan dengan cara berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh dan yang dilalui berupa daerah yang menanjak. Tetapi, selain alasan yang cukup menyenangkan seperti tersebut di atas, kegiatan pendakian ini bukannya tanpa resiko yang sangat berbahaya. Resiko yang sering muncul berupa mountain sickness yaitu tersesat, terperosok ke jurang, kehilangan kesadaran, sesak nafas, hipertensi akut dll. Bagaimana ini bisa terjadi? dan bagaimana upaya pencegahannya?

Secara hukum fisika, daerah pegunungan sangatlah berbeda kondisinya dibandingkan dengan daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian tempat ini berakibat munculnya perbedaan kondisi lingkungan setempat. Perbedaan yang sangat esensial misalnya berupa tekanan udara. Tekanan udara di dataran rendah lebih tinggi dibanding dengan pegunungan (dataran tinggi). Semakin tinggi suatu tempat semakin maka rendah tekanan udaranya. Hal ini berhubungan dengan faktor adanya gaya gravitasi bumi yang ditimbulkan.

Gravitasi di dataran rendah menjadi lebih tinggi karena kedekatannya dengan pusat bumi, sedangkan semakin daerah itu tinggi maka semakin pula menjauhi pusat bumi. Jauhnya dengan pusat bumi berakibat gaya gravitasinya semakin lemah. Lemahnya gravitasi ini memunculkan tekanan udara menjadi semakin lemah pula. Tekanan udara yang rendah ini berakibat kandungan oksigen pada lingkungan udara setempat menjadi rendah.

Kandungan oksigen di lingkungan tempat tinggi (gunung) berdampak terhadap kondisi fisiologis seorang pendaki gunung menjadi terganggu. Dampak rendahnya oksigen lingkungan ini bagi pendaki gunung mula-mula dirasakan berupa sesak nafas, selanjutnya yang dirasakan dapat pula berupa adanya semacam halusinasi yang diakibatkan mulai berkurangnya oksigen yang menuju ke otak.

Jika hal ini terus berlanjut muncul efek yang sangat berbahaya yaitu hilangnya ingatan (amnesia) akibat hipoksia otak, kondisi ini membawa dampak tersesatnya seorang pendaki karena ingatan terhadap medan pendakian menjadi hilang, kemudian muncul pula halusinasi yang dapat berakibat seseorang bisa tanpa sadar menuju daerah yang berbahaya yang biasanya berupa jurang.

Kondisi tersebut di atas bertambah berat karena timbul dampak lain dari rendahnya oksigen lingkungan ini, yang berupa meningkatnya jumlah eritrosit dengan cepat (eritropoeisis) sehingga terjadi polisitemia (kadar eritrosit di atas harga normal). Polisitemia ini membawa pengaruh munculnya viskositas (kekentalan darah) meningkat, sehingga aliran darah menjadi lambat dan tekanan darah menjadi meningkat serta frekuensi denyut jantung meningkat, sehingga pendaki gunung merasa berdebar-debar jantungnya serta memperparah kondisi hipoksia otak.

Keadaan semacam ini biasanya dialami oleh seseorang yang mendaki gunung dengan tidak memperhatikan adaptasi gradual (bertahap) yaitu dengan cara beristirahat sesaat di pos-pos peristirahatan. Pos peristirahatan ini selain berfungsi untuk memulihkan kondisi kelelahan juga berfungsi untuk mengadaptasikan fisiologis tubuh terhadap perubahan lingkungan secara bertahap sehingga tubuh tidak kaget terhadap perubahan ini dan reaksi tubuh akan memberikan respons yang tidak akut (sekonyong-konyong mendadak). Jika tahap adaptasi gradual ini ditempuh dengan baik maka resiko mountain sickness ini tidak akan terjadi dan kegiatan mendaki gunung benar-benar mengasyikkan. (KR)

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???