Penentuan Lebaran Harus Berkiblat pada Arab Saudi

Persamaan penentuan 1 Ramadan (awal puasa) setiap tahun selalu sama. Namun ketika menetapkan perayaan lebaran 1 Idul Fitri selalu berbeda dan banyak konflik pelik di masyarakat. Padahal jika umat Islam sadar dengan penuh, seluruh peradaban Islam itu berasal dari kota suci, yakni Madinah dan Makkah di Arab Saudi.

Bahkan sejak zaman nabi Muhammad hingga sekarang, di dua kota itu tidak pernah keliru menentukan pelaksanaan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Mengapa justru di Indonesia sering terjadi perbedaan? Hal ini disesalkan oleh Ketua Majelis Pimpinan Cabang Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid dan Musholla Indonesia Kota Batam (MPC FAHMI TAMAMI), Ustaz Basir Daeng Masabbi.

Kepada Tribun Batam, Minggu (28/8/2011), selepas salat tarawih di Masjid Sirathal Mustakim Greenland Batam Centre, Ustaz Basir Daeng Masabbi perlu meluruskan akan masalah ini. Tujuannya supaya umat Islam tidak keliru menyikapi persoalan yang selalu tidak pernah beres setiap tahunnya. Dia menjelaskan antara Arab Saudi dengan Indonesia terpaut waktu sekitar 4 jam.

“Arab Saudi dengan Indonesia, khususnya Batam ini terpaut sekitar 4 jam. Jika di Madinah atau Makkah pukul 6.00 pagi maka di Batam pukul 10.00 wib dan tidak ada perbedaan hari. Begitu juga dengan negara paling jauh, misalnya Amerika hanya terpaut sekitar 8 jam dan harinya saat itu sama. Di Arab Senin maka di Batam juga Senin,” tegas Ustaz Basir Daeng Massabi.

Artinya apa, lanjut dia, jika di Arab Saudi merayakan Idul Fitri, tentunya di Indonesia juga harus melakukan hal yang sama. Karena di sini hanya terjadi perbedaan jam dan bukan terjadi perbedaan hari. Lantas mengapa terjadi perselisihan, jika di Arab Saudi sudah 1 Syawal tetapi mengapa di Indonesia belum? Menurut dia, umat Islam harus berkiblat ke Madinah atau Makkah.

“Satu lagi, 1 Syawal itu hukumnya haram untuk berpuasa. Jika haram maka jelas berdosa, kemudian siapa yang sudi memikul dosanya?,” ujar Ustaz Basir Daeng Massabi dengan nada tinggi.

Dari kacamata Ustaz Basir Daeng Masabbi, 1 Syawal merupakan ketetapan Allah sejak zaman ‘azali’ berdasarkan ‘sunnatullah’ yang tidak akan pernah meleset sedikitpun. Hanya saja, umat Islam terlalu dikotomi. Ingat, kata dia, setiap tahun masehi umat Islam selalu taat dan tidak pernah pernah berselisih pendapat tentang 25 Desember atau yang lainnya.

Namun kenyataannya, sampai sekarang ini umat Islam sendiri lebih takut kepada ‘kepentingan’ manusia. Yang ada justru tidak takut kepada hukum Allah itu sendiri. Makanya sering timbul bencana alam atau wabah melanda negeri ini. Padahal jika ditilik, bulan, bumi, dan matahari hanya ada satu jumlahnya. Kiblat umat Islam hanya kepada Madinah dan Makkah al Mukaramah.

Untuk itu perlu disadari bersama, lanjut dia, dari dulu banyak ‘tangan-tangan’ yang tidak suka jika umat Islam bersatu. Mereka selalu ingin mencerai-beraikan keadaan umat Islam. Termasuk mencampuri hari raya kemenangan atau Idul Fitri itu sendiri. Padahal jika dirasakan, justru umat Islam itu sendiri yang rugi besar. Maka seyogianya perlu ketegasan dari para pemimpin.

“Pemimpin kita harus tegas dan tidak boleh tawar-menawar dalam masalah hukum Islam. Hukum Islam itu bukan Nabi Muhammad yang membuat, tetapi Allah yang menentukan. Rasulullah hanya sebagai perantara penyampaian hukum Allah itu,” tegas Ustaz Basir Daeng Masabbi.

Kemudian bagaimana dengan keadaan umat Islam sekarang ini yang sebentar lagi merayakan Idul Fitri? Menurut dia, solusi umat Islam harus kembali kepada Makkah dan Madinah. Artinya, selama bertahun-tahun salat selalu menghadap arah kiblat di Makkah, tentunya untuk Idul Fitri juga harus mengikuti mereka. Tidak ada alasan lain kecuali tunduk dan mematuhinya.

“Tidak ada solusi lain kecuali mengikuti keputusan ulama yang shahih dari Arab Saudi. Kita harus melakukan hal ini agar selamat di dunia dan akhirat. Sebab mereka di sana yang selalu kita ikuti,” imbuh Ustaz Basir Daeng Masabbi menguraikan.

Untuk itu, dia mengimbau umat Islam di Batam dan Kepri untuk melangsungkan Idul Fitri harus mengikuti Arab Saudi. Sebab Madinah dan Makkah itu sendiri merupakan kiblat (pijakan) yang tidak bisa ditawar lagi. Tetapi jika umat Islam masih ‘ngeyel’, maka dia berlepas tangan. Dalam hal ini, jika Pemerintah salah menetapkan Idul Fitri, maka Pemerintahlah yang harus memikul dosanya.

Sumber : TribunNews/Yahoo!News

Iklan

Beramal Jangan Cuma di Bulan Puasa

Selama Ramadan tingkat beramal masyarakat sangat tinggi. Sayangnya kecenderungan itu menurun saat 11 bulan berikutnya. “Ini yang jadi masalah,” kata President Direktur, Dompet Dhuafa, Ismail Agus Said, kepada Republika.

Ia mengatakan beramal kepada sesama tidak perlu menunggu bulan suci Ramadan. Sebab beramal atau berbagi bisa dilakukan kapan pun.

Menurut Ismail kecenderungan itu tidak salah. Tapi akan lebih baik apabila aktivitas sosial tidak perlu menunggu Ramadan tiba. Dengan demikian mereka yang berhak dapat segera terbantu. “Saya pikir, lantaranan pahalanya lebih besar, maka masyarakat lebih memilih beramal saat Ramadan,” imbuhnya.

Salah satu solusinya ialah Lembaga Amal dan Zakat (LAZ) agar lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat. Misalnya dengan selalu mengedepankan program yang sedang berjalan lalu diberitahukan kepada para donatur untuk turut menyumbang. “Para donatur kita kan masih pasif, jadi LAZ harus lebih aktif lagi menarik masyarakat untuk beramal,” jelasnya.

Sementara itu sampai hari ke 10 Ramadan, Dompet Dhuafa telah menjalin kerjasama dengan 10 perusahan nasional untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang berhak. Kondisi itu serupa dengan Ramadan tahun lalu. “Selama Ramadan pasti kita sibuk, apalagi banyak perusahaan yang hendak menyalurkan bantuan,” urainya.

Bantuan yang diberikan cukup bervariasi. Mereka ada yang memberi bantuan tunai dan makanan. Namun yang paling banyak diminta adalah buka bersama anak yatim piatu.

Untuk Ramadan kali ini, Dompet Dhuafa menargetkan penyaluran bantuan senilai Rp 60 miliar. Setiap bantuan yang diberikan akan disesuaikan dengan sasaran secara merata. “Tahun lalu saja bisa Rp 220 miliar. Artinya apa, masyarakat mulai giat beramal. Tapi yaitu tadi diharapkan jangan di bulan Ramadan saja,” pungkasnya.

Sumber : Republika/Yahoo!News

Bonus Berpuasa Ramadan

“Watak manusia memang mencintai materi,” (QS Ali Imran: 14). “Walaupun kesenangan materi adalah palsu dan menipu,” (QS Ali Imran: 185, al-Hadid: 20). “Dan, jika dia tenggelam dalam kemateriannya maka posisinya bisa lebih rendah dari binatang,” (QS al A’raf 179).

Memang manusia harus seimbang antara materi dan rohani. Namun orang yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan materi akan naik ke derajat malaikat. Saat orang berpuasa berusaha untuk meninggalkan kemateriannya dan menuju alam malakut. Sehingga Allah menyanjungnya dalam hadis Qudsi yang artinya:  “Setiap amalan anak cucu Adam adalah baginya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang berpuasa jangan berkata kotor dan jangan bertengkar. Bila dihina seorang atau diajak duel, hendaknya menjawab: aku sedang puasa …” (HR Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Itulah bonus bagi orang yang puasa Ramadhan. Agar manusia yang materialis ini bisa tawazun (seimbang), Allah memberi motivasi dengan berbagai cara. Sebagai makhluk ekonom, ia tertarik dengan segala bentuk transaksi yang menguntungkan. Untuk itu Al Quran banyak menggunakan istilah ekonomi, seperti istilah transaksi (as-Shaf: 10), rugi dan timbangan (ar-Rahman: 9) dan lainnya.

Supaya umat Islam di bulan Ramadan mencapai puncak dalam ibadah maka Allah menyediakan beragam bonus. Rasulullah SAW bersabda, “Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka:  Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi. Setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka.”

Allah menghiasi surga untuk mereka kemudian berfirman: “Hamba-hamba Ku yang saleh tengah melepaskan beban dan kesulitan maka berhiaslah, setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda dan orang-orang puasa diampuni dosa-dosa mereka pada malam terakhir bulan Ramadan.” (HR Ahmad, Al-Bazzar, Al-Baihaqi).

Selain itu pada malam pertama Ramadan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan penyeru dari langi memanggil, “Wahai pencari kebaikan, songsonglah dan wahai pencari kejahatan berhentilah! Dan Allah membebaskan banyak manusia dari neraka setiap malam Ramadan.”

Orang yang berpuasa diberi keistimewaan dengan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah di surga. Di surga ada pintu yang disiapkan untuk orang puasa, yaitu pintu Ar-Rayyan. Bila para shoimin di dunia telah masuk, semua pintu ditutup dan tidak ada yang masuk lagi selain mereka.

Lebih dari itu, di bulan suci ini, Allah menyediakan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Barang siapa yang tidak mendapat kebaikan malam itu sungguh dia termasuk orang celaka. Demikian besar bonus yang disediakan Allah pada setiap Ramadan.

Tidak cukupkah bagi kita untuk bermujahadah dalam beribadah demi menyongsong keutamaannya? Boleh jadi di antara kita, ada yang tidak bertemu kembali dengan bonus-bonus Ramadan.

Sumber : Prof Dr KH Achmad Satori Ismail/Republika/Yahoo!News

Tiga Disiplin Puasa Ramadan

Ada banyak makna penting dari ibadah Ramadan, salah satunya adalah mendidik kedisiplinan. Ada tiga bentuk disiplin yang dapat diperoleh dari puasa.

Pertama: disiplin dalam menunaikan kewajiban, apalagi kewajiban ini telah diharuskan kepada generasi sebelum kita. Ini berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau melaksanakan segala bentuk kewajiban dalam hidup.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS al-Baqarah [2]:183).

Utang juga kewajiban yang harus kita tunaikan, baik kepada Allah SWT maupun kepada manusia. Karena bila kewajiban puasa belum kita tunaikan dengan alasan tertentu, maka kewajiban itu tidak gugur begitu saja, tapi harus diganti dengan berpuasa pada kesempatan lain atau menggantinya dengan fidiah.

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,” (QS al-Baqarah [2]:184).

Kedua: disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin dalam konteks pengabdian kepada Allah SWT, karenanya berpuasa dan ibadah lainnya di dalam Islam telah ditentukan waktunya.

Saat fajar atau subuh tiba, maka makan, minum serta hubungan suami istri dihentikan untuk memulai ibadah puasa. Orang yang disiplin waktunya bagus merasa lebih baik menunggu daripada terlambat.

Sedangkan bila maghrib tiba, kita harus segera makan dan minum untuk mengakhiri puasa meskipun harus menunda beberapa saat pelaksanaan salat maghrib.

Efektif dan efisien dalam menggunakan waktu sangat terasa saat bulan Ramadan.

Ketiga: disiplin dalam hukum. Sebagai manusia kita harus taat kepada hukum. Allah SWT paling tahu hukum seperti apa yang cocok untuk manusia.

Melalui puasa kita dilatih untuk disiplin dalam hukum sehingga sesuatu yang semula boleh menjadi tidak boleh. Contoh, jika makan, minum atau hubungan seksual bisa dikendalikan, seharusnya kita bisa mengendalikan diri dan disiplin dalam hukum-hukum lainnya.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui,” (QS al-Baqarah [2]:188).

Karena itu berbahagialah kita mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membina diri melalui ibadah Ramadhan yang membuat kita menjadi semakin bertaqwa kepada Allah SWT.

Sumber : Republika/Yahoo!News

Yang Tidak Diketahui Barat Soal Puasa

Tidak semua masyarakat Barat paham soal ibadah puasa di kalangan Muslim. Berikut 10 daftar hal yang tidak diketahui oleh dunia Barat soal ibadah puasa di bulan Ramadan, seperti dilansir dari Time.com:

1. Tidak Merokok dan Berhubungan Badan
Ibadah puasa bagi setiap Muslim tidak sebatas menahan lapar dan haus tetapi juga kebiasaan lain seperti merokok atau berhubungan suami istri. Hal lain yang tidak diketahui, selama Ramadan jalan-jalan kota besar di dunia Islam akan diisi penuh makanan dan kebahagiaan hingga larut malam.

2. Kurma
Tradisi berbuka antar negara Islam berbeda satu dengan yang lain. Namun Nabi Muhammad SAW memberikan teladan dengan menyarankan berbuka dengan air tawar, roti dan kurma. Dengan demikian kurma telah identik dengan Ramadan.

Berbicara kurma ada kisah menarik yang tidak diketahui dunia Barat. Ada sebuah kebiasaan bagi masyarakat Timur Tengah memberi nama kurma dengan nama yang mudah diingat. Pada 2009 lalu pedagang Lebanon menjual kurma dengan nama Hassan Nasrallah sebagai daya tarik. Pedagang kurma Mesir menyebut kurma dengan ‘Obama’ atau ‘Tahrir Square’.

3. Nama Ramadan
Nama Ramadan merupakan favorit orang tua dari keluarga Muslim. Tak heran ada banyak ribuan nama Ramadan, bahkan merupakan yang populer di dunia Islam pada tahun 1990-an. Bahkan popularitas nama Ramadan naik semenjak 2005.

4. Pengecualian Puasa
Meski hukumnya wajib ada pengecualian menurut Al Quran seperti orang yang sakit, lanjut usia, bepergian jauh, hamil atau menyusui, serta anak-anak di bawah usia pubertas. Selain itu ada pengecualian lain seperti  pendarahan menstruasi atau pasca-melahirkan, muntah yang disengaja dan tentu saja melanggar aturan puasa dengan makan atau minum.

5. Puasa Sunni dan Syiah
Setelah berpuasa sehari penuh Muslim Sunni akan berbuka puasa setelah azan Magrib berkumandang. Sementara Syiah menunggu lebih lama, karena mereka percaya bahwa puasa mereka sempurna apabila berbuka ketika cahaya matahari telah lenyap di balik cakrawala.

6. Tanggal 1 Ramadan Selalu Berubah
Penentuan 1 Ramadan didasarkan pada kalender lunar, yang diawali dengan melihat kedatangan bulan baru atau Hilal. Sementara jumlah hari dari kelendar bulan dan Matahari berbeda 11 hari. Lantaran itu, bila kalender bulan dikonversi menjadi kalender matahari, maka penentuan satu Ramadan tidak akan sama setiap tahunnya.

7. Rating Tinggi
Ramadan adalah sumber pemasukan iklan bagi televisi. Dengan hanya memproduksi satu acaramengenai Ramadan  maka uang dalam jumlah besar dari iklan akan masuk.

8. Puasa Selain Ramadan
Ibadah puasa tidak hanya dikenal dalam ajaran Islam. Dalam kepercayaan Yahudi dan Nasrani juga dikenal ibadah puasa. Yang membedakan ibadah puasa diantara agama samawi adalah  teknis.

9. Diet
Puasa merupakan pola diet yang sempurna. Namun kesempurnaan diet itu tergantung dari aktivitas Muslim. Karena itu umat Islam dianjurkan untuk minum air putih, makan buah-buahan, sayuran, protein, dan bangun setiap pagi untuk makan sahur yang berlangsung sebelum matahari terbit.

10. Perbanyak Amal
Ibadah puasa merupakan momentum untuk memperbanyak amalan sosial. Sudah menjadi tradisi setiap Muslim untuk memberikan makanan berbuka kepada mereka yang tidak mampu. Tak hanya itu, setiap Muslim juga memberikan kebutuhan dasar seperti gula, minyak, beras dan teh sebelum hari pertama Ramadan.

Sumber : Republika/Yahoo!News

Lima Keutamaan Ramadan

Mengenai keutaman saat Ramadan, Imam Ahmad meriwayatkan suatu hadis dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Pada Ramadan umatku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan pada umat-umat sebelumnya:

Pertama, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.

Kedua, para malaikat selalu memintakan ampunan untuk mereka hingga waktu berbuka.

Ketiga, setiap hari Allah menghiasi surga-Nya sambil berkata, hamba-Ku yang saleh ingin melepas beban dan penderitaan yang mereka rindu untuk memasukinya.

Keempat, pada bulan ini diikatlah setan-setan yang durhaka sehingga mereka tidak leluasa mencapai apa yang dapat dicapainya pada bulan lainnya.

Kelima, mereka diampuni Allah pada malam yang terakhir dari bulan itu.

Lalu para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu malam Lailatul Qadar?” Beliau menjawab: “Tidak karena orang yang bekerja itu akan dipenuhi upahnya manakala sudah menyelesaikan pekejaannya.”

Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak kesturi. Padahal, bau yang keluar dari mulut ketika perut dalam keadaan kosong merupakan bau yang tidak disenangi orang, namun di sisi Allah hal ini lebih harum dibandingkan parfum jenis apa pun.

Hal ini disebabkan bau tersebut timbul dari ketaatan beribadah kepada-Nya. Segala sesuatau yang timbul dari beribadah dan sikap menaati Allah disukai oleh-Nya dan akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih mulia.

Tidakkah kita lihat orang yang mati syahid karena membela agama Allah? Dia akan datang pada hari kiamat dengan luka yang mengucurkan darah dan pakaian yang berlumuran darah pula, tetapi dengan aroma harum semerbak.

Kedua, malaikat memintakan ampun bagi mereka hingga mereka berbuka, sedangkan malaikat adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan di sisi-Nya, tidak pernah melanggar perintah-Nya dan selalu melaksanankan apapun yang diperintahkan-Nya. Sudah sewajarnya Allah mengabulkan permohonan mereka untuk orang-orang yang bepuasa itu, yang memang sudah diizinkan oleh-Nya.

Allah SWT mengizinkan para malaikat memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman dari kalangan umat Islam adalah demi menghormati mereka, meningggikan sebutannya dan menampakkan keutamaan puasa mereka.

Ketiga, Allah SWT menghiasi surga-Nya setiap hari seraya berkata hamba-hamba Ku yang saleh ingin melepas beban dan penderitaannya serta mereka sangat ingin memasukimu. Allah menghiasi surga setiap hari merupakan persiapan untuk menyambut hamba-Nya yang baik dan menambah semangat mereka agar semakin berkeinginan untuk memasukinya.

Keempat, setan diikat dengan rantai dan dibelenggu sehingga mereka tidak dapat menyesatkan hamba-hamba Allah yang saleh dan tidak bisa menghalangi mereka dari kebaikan.

Kelima, Allah SWT mengampuni seluruh dosa umat Muhammad pada akhir bulan ini apabila mereka melaksanakan apa-apa yang seharusnya mereka laksanakan, baik berupa puasa maupun shalawat sebagai suatu keutamaan dari-Nya.

Itulah beberapa keutamaan Ramadan yang bisa diraih kita yang menjalankan ibadah puasa dengan benar dan ikhlas.

Sumber : Uje/TribunNews/Yahoo!News

Berbukalah dengan Kacang Hijau dan Ketan Hitam

TAHUKAH Anda, bubur kacang hijau dan ketan hitam sangat baik untuk menu berbuka puasa.Kandungan gula merah dalam dua menu tersebut berfungsi mengembalikan glukosa darah, yang turun setelah setengah hari berpuasa.

Prof Made Astawan, ahli teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor, mengatakan, kandungan energi 100 gram bubur kacang hijau sekitar 74-140 kalori.

Karbohidrat dalam ketan hitam akan dicerna dan dimetabolisme tubuh menjadi energi untuk menunjang berbagai aktivitas tubuh.

Kandungan protein yang berasal dari kacang hijau serta lemak dari santan, berkontribusi dalam mengembalikan kebugaran tubuh.

Selain karbohidrat, kacang hijau juga mengandung protein dan lemak tidak jenuh, antara laini oleat, lonoleat, dan lonolenat. Zat gizi penting lain dalam kacang hijau adalah vitamin B1, B2, B3, serta mineral seperti kalsium, fosfor, besi, natrium, dan kalium.

Sementara ketan hitam, mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan mineral, yaitu fosfor, kalium, kalsium, dan besi.

Namun, alangkah baiknya jika santan sebagai pelengkap dibuat encer dan digunakan dalam jumlah sedikit. Demikian pula porsi ketan hitam, sebaiknya tidak dicampur terlalu banyak. Santaplah bersama kuahnya, karena vitamin dan mineral kacang hijau banyak terlarut dalam kuah.

Sumber : TribunJogja.com

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???