Film Kartun Tak Lagi Aman untuk Anak

Siapakah anak-anak yang tidak suka film kartun? Rasanya hampir tidak ada. Dan hingga saat ini masih bertahan menjadi tontonan kategori hiburan penyulutsenyum, tawa atas kelucuan dan kekonyolan dalam kisah-kisahnya. Misalnya sang tokoh cerita bisa gepeng terlindas mobil atau digebuk palu, dan menggembung lagi seperti semula. Atau rambut berdiri secara spontan. Beragam kekonyolan yang tidak akan mampu ditampilkan oleh film biasa.

Jumlah penayangannya di televisi, meskipun tidak sebanyak infotainment dan sinetron, namun cukup besar. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) di Bandung, mencatat ada 41 judul film kartun yang ditayangkan beragam televisi hingga hari ini di berbagai jam tayang.  Diantaranya, dari pukul 13.30 hingga 19.30 Wib, ada sekitar 20 judul film kartun ditayangkan  TPI, Antv, dan Global TV.  Dari puluhan judul itu, tak terkecuali serial Naruto, Avatar, atau Samurai X . Belum lagi  Indosiar menayangkan beragam jenis film kartun produk Walt Disney.  Dan semua film-film kartun itu, adalah produk impor yang dikuasai oleh dua negara, Amerika dan Jepang.

Dulu, kita pernah meributkan film kartun Crayon Shinchan sebagai tontonan anak-anak  yang vulgar. Baik dalam penampilan dan tingkah polah, juga kata-kata yang mengolok-olok. Diperankan  Sincan maupun tokoh lainnya di film itu. Sang pembuat cerita, Yoshitu Usui, memang menggarap film kartun ini,  guna menyindir moral orang Jepang yang salah kaprah,berdampak pada perilaku anak-anak. Seperti fenomena negatif  budaya kawin muda, juga keberadaan perempuan sebagai objek seks. Serta perilaku kedodoran anak-anak menjiplak perilaku orang dewasa, seperti  ke pub atau pulang dalam keadaan mabuk. Dan akibat gugatan publik, Crayon Sincan kini sudah menjadi cerita lalu.

Namun, bagaimana pula dengan film kartun yang berjubel nongol di layar kaca kita hingga hari ini?
Meskipun film kartun Crayon Sincan, telah memberikan pelajaran tentang muatan vulgar dan kekerasan, kebanyakan para orang tua masih menilai film kartun adalah tontonan hiburan yang aman untuk anak-anak mereka. Apa yang berlaku pada film kartun Crayon Sincan sepertinya tidak dikuatirkan dalam film kartun lain.  Begitu pula stasiun televisi juga punya pemahaman serupa. Salah satu tayangan hiburan anak-anak yang diandalkan mereka, adalah film kartun.

Dan ternyata, bukan hanya kebanyakan orang dewasa yang menilai demikian. Para remaja pun berpendapat tak berbeda. Itulah yang disampaikan oleh anak-anak SMA yang saya kunjungi sewaktu penyuluhan ke sekolah-sekolah bersama Aulia Indriati, anggota bidang Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepri dan anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kepri. Baik di Tanjungpinang, maupun di Tanjungbalai Karimun.

Mereka, para remaja berseragam sekolah itu mengatakan film kartun tidak hanya disukai oleh adik-adik mereka, tapi juga mereka sendiri. Bagi mereka, film kartun itu “asyik dan lucu sih..”

Dari beragam jenis film kartun, yang sedang digemari mereka adalah film-film kartun impor Jepang. Dan sangat hafal dengan tokoh-tokoh kartun semisal, serial Avatar, Naruto atau Samurai X. Begitu pula adik-adik mereka juga menyukainya, selain film kartun produksi Walt Disney, semisal Mickey Mouse atau Donald Duck. Mereka pun  mengurutkan film kartun adalah tayangan yang tidak berbahaya dibandingkan sinetron dan infotaiment.
Namun Don Bosco Selamun, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPIP)  mesti berseru keras pada suatu dialog di Palembang, publik harus mewaspadai tayangan film kartun. Begitu Aulia Indriaty menggeleng prihatin. Lalu ia pun bertanya ulang pada remaja di sekolah-sekolah yang dikunjunginya, “Yakinkah kalian film kartun aman dari muatan kekerasan dan porno?” tanyanya.

Mari kita simak, satu cuplikan film The Simpson yang sudah sangat popular bagi pencinta film kartun.  Berisikan kisah dua tokoh, laki-laki dan perempuan kebingunan untuk mencari tempat bersembunyi, karena mereka terjebak di keramaian dalam keadaan bugil. Tokoh perempuan dengan susah payah menutupi dadanya dan bagian bawah tubuh polosnya dengan susah payah. Sedangkan tokoh lelaki lebih agak rileks, karena yang harus diamankannya hanya bagian bawah tubuhnya. Tak ayal, tubuh bagian belakang mereka yang polos diekpos habis-habisan. Ini lah yang menjadi objek utama penayangan kekonyolan. Tubuh polos itu mengawang di atas awan melewati sebuah gedung kaca yang didalamnya sedang menyelenggarakan kebaktian.  Sang pastor terkaget begitu menengadah ke atas, mengingat anggota kebaktian riuh. Di sana, di atas kaca bangunan itu, tubuh polos tanpa sehelai benang pun tertera jelas mengawang. Sang pastor pun meminta hadirin segera menundukkan kepala.

Juga mari pula kita simak film kartun impor Jepang lain yang sedang digemari, semisal Naruto. Setiap kisahnya selalu berisikan perseteruan demi perseteruan yang diselesaikan dengan cara-cara yang sangat atraktif dan demonstratif. Seperti melempar tubuh lawan ke jurang. Meremas dada lawan hingga lawan tidak bisa bernapas menahan sakit.

Atau tayangan  Samurai X yang mengetengahkan cerita mengenai Kenshin – Batoshai si Pembantai, samurai tanpa tuan yang dulunya gemar membantai para kriminal, yang selalu dikejar bayangan peristiwa masa lalu. Memang ada muatan edukasi dalam film kartun ini, tentang sifat teladan dan heroik sang samurai membebaskan kehidupan dari ancaman para pelaku kriminal, namun adegan-adegan pembantaian dipapar dengan jelas. Yang tak jarang sadis dan mengerikan.

Di Jepang,  film kartun adalah film untuk kategori banyak usia. Mulai dari kategori untuk anak-anak, remaja hingga dewasa, bahkan untuk cerita porno juga ada. Dan film kartun impor dari Jepang di layar televisi kita hari ini adalah tontonan untuk rating usia 13 tahun, di negara asalnya. Sehingga apa yang ditampilkan perlu penerjemahan makna dari setiap kisah yang diangkat. Baik makna perjuangan, keteladan dan keintegritasan.
Namun film kartun seperti ity yang menjadi suguhan tontonan anak-anak. Tentu saja anak-anak kita yang berusia di bawah 13 tahun, belum mampu menterjemahkan itu semua. Alam pikir mereka baru sampai  menangkap apa yang dipaparkan dalam cerita. Baik kekonyolan, kevulgaran dan kekerasan.  Begitu pula film kartun impor dari Amerika yang dikategorikan tontonan anak semisal Tom dan Jery pun tidak lepas dari muatan kekerasan yang berbahaya pada pembentukan perilaku anak-anak.

Karena itu, YPMA menilai film kartun adalah tayangan yang mesti diwaspadai untuk anak-anak. Karena mengandung adegan kekerasan, seks, serta mistis yang berlebihan secara detail!  41 film kartun yang ada di televisi,  saat ini 26 di antaranya berbahaya dan harus hati-hati ditonton anak-anak. Hanya 15 film kartun saja yang dinilai aman ditonton anak, seperti diantaranya Captain Tsubasa, Go! Diego Go!, dan Dora the Explorer di Global TV.  Dari semua itu, sangat penting bagi kita merevisi penafsiran  film kartun adalah tontonan aman dan layak untuk anak-anak. Jauhi mereka dari kecanduan kekonyolan berbahaya tersebut.

[ Lisya Anggraini
Penulis, Jurnalis, Wakil Ketua KPID Kepri
batampos.co.id/Siar/Film_Kartun_Tak_Lagi_Aman_untuk_Anak ]

Iklan

Televisi: Guru Setia yang Ajarkan Anak Amoral, Borju dan Kekerasan

Televisi tidak bisa dipungkiri, kini boleh jadi telah menjadi pengasuh setia masyarakat. Tak terkecuali anak-anak. Yang jadi masalah, kalau anak-anak menonton tayangan telivisi yang tidak sesuai dengan usianya. Misalnya, tayangan seks dan kekerasan. Anak-anak yang masih rentan daya kritisnya, akan mudah sekali terpengaruh dengan isi dan materi tayangan televisi yang ditontonnya, dan pengaruhnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.

Oleh sebab itu para orang tua senantiasa diingatkan untuk menerapkan kontrol yang ketat terhadap kebiasaan menonton tivi bagi anak-anaknya. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang, dampaknya sangat membahayakan buat perkembangan jiwa mereka.

Survei membuktikan

Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tayangan televisi dan pola menontonnya di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan.

Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah.

Hasil penelitian oleh Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann dari University of Michigan menunjukkan, anak yang menghabiskan waktu dengan menonton TV cenderung lebih agresif. Apalagi kalau yang ditontonnya adalah tayangan yang buruk dan penuh dialog kasar. Anak bisa terdorong untuk melakukan hal yang sama.

Sementara itu, Mary Win dalam bukunya The Plug-In-Drug dan Unplugging The Plug-In-Drug mengungkapkan sejumlah dampak menonton televisi bagi anak-anak. Antara lain bisa menimbulkan ketagihan dan ketergantungan serta pola hidup konsumtif di kalangan anak-anak. Anak-anak akan merasa pantas untuk menuntut apa saja yang ia inginkan, alias anak akan menuntut gaya hidup borju.

Psikolog yang biasa mengasuh rubrik Anda dan Buah Hati di sebuah majalah keluarga, Evi Elvianti pada eramuslim mengungkapkan, dari tayangan TV seorang anak bisa meniru pola-pola perilaku baru yang bisa mereka pelajari. Dan yang memprihatinkan pola-pola perilaku baru itu kebanyakan yang bersifat negatif. Karena buat seorang anak, ketika ia menonton TV, yang ia serap hanyalah bentuk tayangan atau tampilannya saja.

Karena usia mereka belum mampu untuk menangkap nilai moral apa sebenarnya yang ingin disampaikan dari tayangan tersebut. Biar bagaimanapun, unsur hiburan menjadi alasan utama bagi anak-anak ketika melihat sebuah tayangan tivi,” jelas Evi.

Evi sependapat kalau menonton tv bisa menjadi candu bagi anak-anak. Namun Evi lebih menekankan dampak kecanduan ini hanya bagi anak-anak yang tidak punya alternatif kegiatan lain di rumah. Padahal menurut Evi, tidak sulit untuk memberikan kegiatan alternatif pada anak-anak agar tidak mengisi waktu luangnya hanya dengan menonton tivi. Misalnya, setelah satu jam menonton TV, si anak diajak bermain dengan kakaknya, kemudian membantu ibunya.

Terlepas dari baik buruknya tayangan televisi yang ditonton seorang anak, pola menonton tivi yang tidak terkontrol akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak.

Yang pertama, ketrampilan anak jadi kurang berkembang. Usia anak adalah usia dimana si anak sedang mengembangkan segala kemampuannya seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan mengemukakan pendapat. Dampak lainnya, disadari atau tidak, perilaku-perilaku yang dilihat di TV akan menjadi satu memori dalam diri si anak dan akibatnya si anak menjadi meniru yang bisa berkembang menjadi karakter pribadinya di kemudian hari, kalau tidak segera diantisipasi,” papar Evi.

Jadi jangan heran, kalau orangtua melihat tingkah anaknya yang kasar atau suka mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, meski orang tua setengah mati meyakinkan bahwa mereka tidak pernah mendidik anaknya seperti itu. Bisa jadi, itu akibat pola menonton tv yang tidak terkontrol.

Psikolog Evi Elvianti mengungkapkan, untuk usia anak-anak sampai 12 tahun, rentang waktu menonton tivi hanya 1 jam saja. Evi juga mengingatkan, anak-anak di bawah usia 2 tahun, sebaiknya jangan dibiasakan menonton televisi.

Dampak pola menonton televisi yang tidak terkontrol sudah terlihat di kalangan anak-anak. Kepala Bagian Kajian Anak dan Media Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia-YKAI Guntarto mengungkapkan, anak- anak sekarang mengalami kesulitan konsentrasi dalam tingkat yang cukup mengkhawatirkan.

Di kepala anak-anak itu dunianya betul-betul sudah dunia TV. Mereka jadi malas belajar dan malas berkompetisi,” ujarnya.

Untuk sementara ini, karena belum ada regulasi yang jelas soal kriteria tayangan televisi, Guntarto menilai peran orang tua menjadi penting. YKAI juga menyarankan, agar waktu menonton tivi bagi anak-anak tidak lebih dari 2 jam. Untuk itu YKAI pernah menyarankan agar tayangan program anak di televisi untuk pagi hari dimulai dari jam 7 sampai jam 9 pagi, dan untuk sore hari mulai jam 3 sampai maksimal jam 6 sore.

Di Indonesia, menurut penelitian YKAI, anak-anak menghabiskan waktu sampai 35 jam per minggunya untuk menonton televisi. “Artinya rata-rata per harinya anak-anak menonton televisi selama 5 jam. Kalau kebiasaan menonton televisi sudah dibiasakan sejak kecil, kesulitan konsentrasi akan menjadi hal yang menakutkan dan bisa terbawa sampai dewasa. Selain itu juga akan mengurangi pemahaman anak-anak tentang bagaimana meraih kesuksesan. Di TV mereka selalu melihat orang kaya, cantik, sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya dalam kehidupan nyata mencapai proses seperti itu,” papar Guntarto.

Sama seperti Guntarto, Psikolog Evi Elvianti menekankan pentingnya peranan seluruh anggota keluarga untuk mengontrol pola menonton TV bagi anak-anaknya. Caranya, orang tua bisa menetapkan dan mensosialisasikan pada seluruh keluarga termasuk pembantu rumah tangga, tentang aturan main waktu menonton televisi.

Orang tua juga bisa mengintensifkan komunikasi dengan anak-anaknya di rumah melalui telepon misalnya, dan menanyakan acara tivi apa yang sedang si anak tonton pada saat itu,” ujar Evi.

Tayangan Anak-Anak di TV Indonesia

Menjamurnya stasiun-stasiun televisi swasta, TV kabel dan penggunaan parabola di negara kita, tidak pelak lagi membuat makin bebasnya tayangan-tayangan tivi ditonton oleh anak-anak. Khusus untuk TV swasta, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia-YKAI menghitung, sepanjang minggu ke-2 bulan Juli, jumlah program anak-anak dari semua stasiun televisi mencapai 123 program.

Kalau dibagi dalam jam, mencapai 180 jam. Jumlah ini, menurut Kepala Bagian Kajian Anak dan Media YKAI Guntarto, cukup tinggi.

Dengan jumlah sebanyak ini orang tua apalagi anak-anak, akan mengalami kesulitan untuk memilih program mana yang cocok buat mereka, mana yang baik dan mana yang buruk. Apalagi tidak tersedia informasi yang cukup tentang tayangan-tayangan tersebut, yang bisa menjadi panduan bagi para orang tua,” ungkap Guntarto.

Kalaupun ada informasi tentang tayangan televisi, yang diulas hanya ringkasan ceritanya saja. Bukan ulasan yang bersifat kritis, yang bisa menjadi acuan bagi orang tua untuk memutuskan program tivi itu cocok buat anaknya atau tidak.

Dari program anak yang jumlahnya ratusan tadi, hanya sekitar 10 persennya saja yang sebenarnya aman buat anak-anak,” tambah Guntarto.

YKAI membagi tayangan anak-anak itu ke dalam katagori aman, biasa-biasa saja, dan katagori yang sebaiknya tidak ditonton. Tayangan yang masuk dalam katagori sebaiknya tidak ditonton, adalah tayangan yang banyak menampaikan adegan kekerasan, sikap anti sosial, intrik dan hal-hal lainnya yang sebenarnya tidak pantas dilihat anak-anak, tapi disajikan sebagai program untuk anak-anak. Contoh tayangan televisi yang menurut YKAI masuk dalam katagori sebaiknya tidak ditonton adalah sejumlah film karton dan tayangan sinetron lokal seperti sinetron Bulan Bintang, Ratu Malu dan Jenderal Kancil dan Si Yoyok.

Lebih dari itu, menurut Guntarto, ada program-program yang tidak diketahui secara pasti apakah program itu untuk anak-anak atau bukan. “Kadang-kadang ceritanya cerita anak-anak, tapi adegan orang dewasanya juga banyak sekali. Belum lagi iklan-iklan d isela-sela acara itu, juga banyak yang tidak sesuai untuk anak-anak,” kata Guntarto.

Lebih lanjut Guntarto mengungkapkan, hampir semua televisi swasta memandang film kartun sebagai program untuk anak-anak. Padahal banyak film kartun yang tidak cocok buat anak-anak karena banyak adegan kekerasannya dan alur ceritanya rumit dan susah dipahami anak-anak.

Guntarto juga mengkritisi petunjuk tayangan yang dicantumkan sejumlah stasiun televisi seperti tanda ‘BO’ untuk ‘bimbingan orang tua’ yang dianggapnya tidak efektif. “Simbol-simbol ini juga banyak dipertanyakan orang. Karena program yang menurut kami tidak layak untuk anak-anak, diberi simbol BO, gimana itu, kan gak bener itu,” kata Guntarto.

Menurut Guntarto, yang akan dipakai nantinya adalah standar program siaran dan pedoman perilaku penyiaran yang sedang dibuat Komisi Penyiaran Indonesia-KPI. Standar ini lebih memperhatikan nilai pendidikan dan harapan orang tua terhadap TV. “Kalau standar ini sudah bisa berjalan, pelan-pelan saya optimis isi program tv kita lebih terarah dan bisa memenuhi harapan para orang tua,” tambah Guntarto.

Regulasi menjadi penting mengingat anak-anak sangat rentan dan sensitif dengan hal-hal yang baru. Pengamat media Ade Armando menilai, selama ini memang tidak ada kebijakan yang pro pada pendidikan anak-anak. “Jadi mereka agak asal ya, bahkan sedihnya hal ini juga dilakukan oleh stasiun-stasiun televisi besar,” kata Ade.

Ade tidak menampik besarnya peran orang tua untuk mengontrol pola menonton dan tontonan TV anak-anaknya. Namun Ade juga menekankan perlu adanya peraturan yang keras yang mengatur soal perilaku tayangan anak-anak di televisi.

Buat Ade, tayangan anak-anak di televisi bukan soal buatan dalam negeri atau luar negeri, yang penting kualitasnya bagus dan sehat ditonton anak-anak. “Di negara-negara maju, pemerintahnya membantu dan mensubsidi pembuatan program-program tivi yang sehat. Anggaran belanja negaranya antara lain dialokasikan untuk membiayai program TV yang sehat, meskipun misalnya ratingnya rendah,” ujar Ade.

Ade menyatakan, kepedulian masyarakat kita soal tayangan anak-anak yang sehat di TV cukup besar. Masalahnya, industri dan pemilik modal bisnis pertelevisian lebih kuat, sehingga kepentingan bisnis lebih diutamakan ketimbang idealisme.

Bagaimana TV Swasta Menentukan Program Anak-Anak

Meski TV-TV swasta banyak menampilkan program anak-anak, fakta di lapangan memperlihatkan masih banyak program anak-anak yang kurang sesuai untuk usia anak. Bagaimana sebenarnya pihak TV menentukan suatu program anak layak tayang?

Uki Hastama, Public Relation SCTV mengungkapkan, pihaknya sangat peduli dengan kualitas tayangan anak-anak, apalagi SCTV memposisikan sebagai TV Keluarga, dalam arti individu-individu dalam keluarga maupun keluarga secara keseluruhan.

Untuk tayangan anak-anak, SCTV menetapkan kebijakan terutama yang menyangkut jam tayang dan kebiasaan anak-anak biasa nonton televisi. Misalnya pagi, sebelum mereka berangkat sekolah dan siang hari setelah jam tidur siang anak-anak. Sedangkan untuk hari Minggu, tayangan anak-anak biasanya diputar sampai menjelang tengah hari.

Uki Hastama mengakui, program tayangan anak-anak yang diputar SCTV sebagian besar adalah film impor dan kebanyakan film kartun. Alasan kenapa SCTV lebih memilih film impor karena lebih kepada keterbatasan program lokal.

Untuk menentukan sebuah program anak layak tayang, bagian program sudah memiliki pola berdasarkan riset yang dilakukan, mulai dari jam tayang sampai materi program. “Program anak cenderung mengikuti trend yang sedang disukai anak-anak. Kita mencoba membaca selera anak-anak. Kita juga punya standar dan batasan-batasan, bahwa untuk tayangan anak, kita harus hati-hati,” jelas Uki.

Meski untuk itu, SCTV tidak melibatkan pakar pendidikan atau seorang psikolog misalnya. Yang memberikan penilaian adalah bagian Planning, Shcedulling and Research dan pihak quality control yang berfungsi sebagai badan sensor internal. “Mereka sudah dibekali dengan wawasan dan unsur-unsur yang berbau psikologi,” tambah Uki.

Menurut Uki Hastama, untuk tayangan anak-anak, SCTV menghindari produk-produk Walt Disney, seperti Tom and Jerry dan sejenisnya. Karena tayangan-tayangan itu dari sisi psikologis, secara tidak langsung mengajar anak-anak untuk gampang memukul orang, ujar Uki.

Kita harus akui anak-anak sekarang itu cenderung lebih modern. Mereka juga suka dengan hal yang nyerempet-nyerempet dewasa,” jelas uki.

Dari sisi komersial, Uki mengakui program anak-anak sangat menguntungkan. Program anak-anak menjadi pasar potensial bagi pengiklan. Uki Hastama tidak menutup mata, banyaknya kritikan yang dilontarkan pada pihak stasiun televisi yang dinilai kurang peduli untuk menayangkan program anak yang bermutu. Menanggapi hal tersebut, Uki Hastama menyatakan, “Kita terbuka dengan kritikan. Tapi kita sebenarnya cukup peduli dan selektif. Sebagai gambaran, daripada kita menayangkan program anak yang menuai protes, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, mending kita tidak tayangkan. Kita tidak mau mengambil resiko dengan sebuah program yang nanti malah jadi persoalan bagi anak-anak,” tutur Uki menutup pembicaraan dengan eramuslim. (eramuslim/swaramuslim.org)

Pentingnya Arti Hubungan Keluarga

Ketrampilan berkomunikasi menjadi terlatih bila anak biasa bergaul dengan keluarga besar yang memiliki beragam tutur. Keluarga dapat menjadi benteng bagi banyak orang. Lewat keluarga nilai-nilai luhur biasa ditradisikan dan diturunkan. Keluarga dapat berfungsi menahan dan menetralisir banyak pengaruh buruk dari lingkungan. Dukungan dan sebaliknya pun dapat diperoleh anak dari keluarganya. Kini ikatan keluarga seolah-olah mengendur tergantikan dengan seabrek aktivitas pendidikan dan sosialisasi yang dibebankan pada anak. Nilai-nilai yang diturunkan dala keluarga terasa dikecilkan artinya. Benarkah demikian? Dan seperapa penting ikatan keluarga dalam mendukung pengembangan kualitas kepribadian seorang anak?

Henny Sitepu Supolo SS, MA pakar pendidikan anak, berpendapat bahwa sebelum adanya keluarga besar, keluarga merupakan inti elemen penting untuk dikenal dan diterima anak. „Hubungan kuat berlandaskan keinginan berkomunikasi timbal balik merupakan hal penting dalam lingkungan ini“ katanya. Perkenalkan anak terlebih dulu pengenalan pohon keluarga yang masih satu kakek dan nenek, paman dan bibi, adik dan kakak, serta sepupu-sepupu. Setelah itu baru keluarga lainnya yang berasal dariu satu buyut. Tahapan ini penting untuk pemahaman anak, pada dasarnya kedekatan keluarga dan prioritas sesungguhnya banyak ditentukan oleh tahapan tersebut“ ujar Henny.

Menuru Henny, biasanya kedekatan dalam keluarga besar juga sangat tergantung dari kemampuan berkomunikasi kedua belah pihak. ’ Bukan hanya dari anak-anak tapi juga dari pihak paman, bibi atau para sepupu itu“ katanya. Bahkan, sebagian orang menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dalam keluarga. Alasannya, selain untuk memudahkan berkomunikasi, juga untuk mendekatkan emosi anak pada budaya dan akar tradisinya.

Dalam pengenalan keluarga besar ini, Henny mengungkapkan, tidak pernah memaksakan anak-anak untuk datang ke pertemuan keluarga kecuali saat Lebaran dan kegiatan keagamaan yang dilakukan bersama keluarga besar. Baginya acara ulangtahun atau arisan keluarga bukan keharusan untuk didatangi bersama anak. Hal ini disepakati karena merasa bahwa kedekatan bukan berasal dari pertemuan yang diapksakan, tapi akan datang langsung dari hati anak-anak itu sendiri. Biasanya anak yang terbiasa dekat dengan keluarga besarnya akan nyaman ketika bergaul dengan orang yang lebih tua“. Ini salah satu hal positif dari kedekatan keluarga besar. Ketrampilan berkomunikasi memang sangat dilatih saat anak dibiasakan bergaul dengan keluarga besar yang memiliki beragam tutur.

Penanaman nilai memegang peranan ketika anak berinteraksi dengan keluarganya seperti sikap saling menghargai, mencintai damai dan menghargai perbedaan adalah beberapa diantaranya. Henny mengatakan kemalasan anak karena tidak biasa bergaul dengan keluarga besarnya sesungguhnya bisa disamakan dengan ketidaknyamanan anak berada di lingkungan baru. “Bagaimana anak tidak bosan bila ia harus duduk diam dan tidak boleh membantah meski tidak setuju dengan apapun yang didengarnya. Atau bagaimana tidak akan gelisah bila dalam jangka waktu lama, duduk manis merupakan keharusan untuk lulus kesopanan” paparnya.

Namun pada anak juga bisa diberikan pemahaman dan semacam tips untuk menghadapi kondisi ini. Antara lain, tidak perlu terlalu lama berada dan duduk diam, segera mencari kegiatan yang kira-kira bisa mengalihkan kebosanannya. Umpamanya, mengajak bermain halma, kartu dan sebagainya. “Ketika anak kami masih kecil, kami tidak pernah mengajak mereka ke acara arisan keluarga hanya karena mereka sungguh menjadi bosan tidak memiliki kegiatan apapun selain duduk menunggu pertanyaan dari orangtua. Meski kami sudah membawakan buku cerita dan buku gambar, tetapi berada di arisan keluarga dimana teman sebaya sangat jarang dan bahkan tidak ada, menjadi pilihan terakhir dalam pengisian akhir pekan mereka” paparnya.

Makin dewasa anak juga bisa merasakan perbedaan adat antara kelompok keluarga ayah dan ibunya. Atau perbedaan menghadapi beberapa paman, bibi, kakek, nenek atau sepupu. Dengan merasakan perbedaan, sesungguhnya anak juga akan melatih kemampuannya untuk bisa berkomunikasi secara efektif dengan siapapun yang dihadapinya. Dan ini juga merupakan salah satu keuntungan secara langsung bila kita bisa membiasakan anak-anak mengenal keluarga besarnya’ ujar Henny.

Henny mengaku, memberi kebebasan pada kedua anaknya untuk tidak mengikuti acara keluarga besarnya. Mereka boleh tidak hadir asal alasan yang mereka paparkan bisa saya terima. Dengan demikian saya tidak serta merta memaksa mereka hadir dalam acar keluarga tersebut. Diakuainya, anaknya telah memiliki komunitas sendiri kadangkala merasa lebih asyik bersama dengan teman-temannya daripada bertemu dengan keluarga yang berbeda generasi ini. Namun, Henny berpendapat, bertemu dengan keluarga besar tetap perlu bagi kedua anaknya.

Orangtua menjadi model

Psikolog dari UNIKA Atmajaya, Theresia Indira Shanti, Psi, M.Si berpendapat, orangtua mempunyai wewenang memilah nilai-nilai yang ditanamkan pada anak. Misalnya boleh berbeda pendapat dalam keluarga asal tetap menghargai dan menjaga sopan santun. Orangtua harus memiliki strategi agar anaknya berprilaku sesuai nilai-nilai itu. Misalnya, jika orangtua ingin anak-anak menyalami orang yang lebih tua sebagai prilaku maka sebaiknya anak memiliki nilai menghormati yang lebih tua. ” Orangtua memberi contoh dengan menghormati om, tante, nenek atau kakek dengan menyapa dan memberi perhatian seperti ‘nenek sudah makan atau belum?’. Kata Shanti. Ia menyarankan untuk menghindari membicarakan anggota keluarga di depan anak. “Jadi orangtua sebaiknya memberi contoh kepada anak, anak harus melihatnya sedini mungkin,” kata konsultan pendidikan di beberapa sekolah ini.

Menurut Shanti, ada anak yang tidak mengenal keluarga besarnya dengan baik atau mungkin mengenal tapi tidak dekat dan merasa asing. Ini bisa menimbulkan kekakuan pada hubungan kekerabatan. Untuk menghindarinya, libatkan si anak memasuki lingkungan keluarga besar. ”Sering-seringlah membawa anak menemui keluarga besarnya misalnya dalam acara keluarga. Lebih kreatif lagi jika Anda mengumpulkan anak dengan sepupunya untuk berlibur bersama, katanya.

Shanti menambahkan, rasa kaku yang ditimbulkan anak ketika berinteraksi dengan kerabatnya tergantung kepribadian si anak sendiri dan kepribadian kerabat. ”Sebaiknya orangtua mengenal karakter dan kebutuhan misalnya anak lebih suka dipeluk ketika berkenalan dengan tante dan omnya atau anak yang memerlukan waktu sebelum berbaur dengan sepupunya. Sebelumnya anak harus dipersiapkan terlebih dahulu, misalnya ‘nanti kita datang ke tempat tante A kamu harus berhati-hati ya soalnya di rumah tante banyak barang yang mudah pecah’ atau beritahu sebelumnya untuk meminta anak memberi salam kepada saudara-saudaranya. Ceritakan secara detail situasi yang akan dihadapi anak sebisa mungkin. Tujuannya agar anak merasa ‘siap’ dan tidak kaget memasuki lingkungan keluarga besar.

Mendekati Akar Budaya

Shanti mengatakan, anak yang kehilangan hubungan (missing link) dengan hubungan kekerabatan dikarenakan anak belum mengerti pentingnya tradisi keluarga. Misalnya anak lahir dan berkembang di Jakarta, orangtua tidak mengenalkannya pada tradisi atau budaya dari daerah asalnya. Jika orangtua ingin anak menghargai tradisinya, maka orangtua memberi contoh dan menstimulasi lingkungan keluarga misalnya dengan menggunakan bahasa daerah di saat-saat tertentu atau mengajak anak mengunjungi kampung halamannya. Atau kenalkan kebiasaan tertentu yang dianut tradisi tersebut misalnya bersuara dengan tone rendah atau berpakaian sopan. Sehingga anak akan berusaha beradaptasi dengan lingkungan keluarga besarnya. Lihat juga kondisi lingkungan keluarganya, ada yang masih bisa menerima prilaku yang ‘berbeda’ ada juga yang kurang menerima.

Mengajarkan bahasa daerah ke anak memang susah-susah gampang. Jika anak menolak ‘mengenal’nya, berikan pemahaman sama halnya bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa pengantar internasional, bahasa daerah juga berfungsi sebagai bahasa pengantar ketika berkumpul dengan keluarganya yang masih berada di daerah. “ Ciptakan lingkungan yang membuat anak termotivasi sendiri dan timbul rasa kecintaan terhadap nilai tradisi keluarganya,”papar Shanti.

Ajak anak perhatian (care) pada kerabatnya misal ketika om-tante atau sepupu berulang tahun, minta anak membuat kartu ucapan atau mencari kado bersama. Ketika kerabat ada yang sakit, Anda bisa mengajak anak menjenguk bersama-sama. Lambat laun anak akan sadar bahwa ada keluarga besar yang berhubungan dengannya di luar lingkungan intinya.

Yang penting anak mengadopsi nilai-nilai yang dikehendaki oleh keluarga sendiri. Sehingga kelak anak mengenal dirinya dengan baik, seperti latar belakang keluarganya terutama kedua orangtua dan bagaimana hubungan kedua keluarga yang berbeda latar belakang dipersatukan. Alhasil anak bisa mempelajari positif dan negatif berdasarkan pengalaman keluarganya. Tak sekedar itu, saat anak tengah mencari identitas diri, mereka dapat menentukan strategi apa yang harus dilakukan kelak. “Anak mengantisipasi untuk perubahan kearah positif sehingga bisa lebih mudah beradaptasi dengan perubahan atau lingkungan tertentu seiring pertambahan usianya,”kata Shanti.

Perbedaan generasi antara cucu dan nenek memang bisa dikatakan cukup jauh. Namun bukan berarti anak tidak bisa berinteraksi hangat dengan mereka. Anda bisa mencontek tips dari psikolog Theresia Indira Shanti, agar cucu dekat dengan nenek dan kakeknya, Umumnya nenek dan kakek memang ingin dekat dengan cucunya. Ada beberapa yang membawakan sesuatu untuk mendekati cucunya. Sebenarnya tidak ada masalah, namun anak bisa jadi kecewa ketika keduanya ‘lupa’ membawakannya sesuatu. Lebih baik berikan kehangatan dengan memeluk si anak ketika bertemu. Anak membutuhkan sikap sensitive dan responsif dari orang lain, sehingga mereka merasa dihargai dan diakui keberadaannya.”Itupun bisa dilakukan jika anak memang tidak dibiasakan diberi stimulasi dengan materi,” ujar Shanti.

Kenali kebutuhan anak untuk beradaptasi. Seperti setelah beberapa hari lamanya tidak bertemu kakek-nenek, anak kembali merasa asing. Ada anak yang memerlukan waktu dengan melihat-lihat atau nyaman lebih dulu lingkungan rumah kakek-nenek sebelum menyapa. Coba pahami dan hargai cara anak, komunikasikan ‘kebiasaan’ anak pada kakek-nenek.

Umumnya anak masih bersifat egosentris, sehingga memerlukan waktu agar anak perhatian dengan orang lain. Untuk membentuk kasih sayang pada diri anak, tunjukkan terlebih dulu bahwa Anda memang perhatian dan peduli misalnya dengan menelepon keduanya setiap hari, menulis surat. Sertakan anak berkomunikasi dengan keduanya. Bagi cerita dengan anak mengenai kakek-neneknya, misal ketika anak pulang sekolah, ‘eh tadi kakek cerita katanya hari ini akan mulai diet lho’. Dari situ timbul rasa keingintahuannya, sehingga timbul ‘kedekatan’ pada anak melalui cerita Anda. (Inspiredkids)

Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis)

Abstrak

Kecenderungan meningkatnya tindak kekerasan dan perilaku negatif lainnya pada anak diduga sebagai dampak gencarnya tayangan televisi. Karena media ini memiliki potensi besar dalam merubah sikap dan perilaku masyarakat terutama anak-anak yang relatif masih mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Hasil penelitian para ahli menunjukan bahwa tayangan televisi bisa mempengaruhi perilaku anak dan juga sebaliknya tidak berpengaruh apa-apa. Pengaruh ini justru lebih dominan dipengaruhi oleh keharmonisan keluarga. Anak dari keluarga harmonis lebih memiliki benteng/penangkal dalam menyikapi tayangan televisi. Oleh karena itu penangkal yang paling ampuh terhadap dampak negatif tayangan televisi adalah menciptakan keluarga yang harmonis, keluarga yang berusaha menanamkan norma luhur dan nilai agama dalam kehidupan sehari-harinya. Begitu pula stasiun televisi mempunyai tanggung jawab mendidik masyarakat dan anak bangsa melalui pemilihan acara yang tepat.

Pendahuluan

Mungkin kita masih ingat sebuah SMU di Colorado Amerika Serikat dibanjiri darah 25 siswanya. Mereka tewas dibantai dua siswa yang berulah seperti Rambo. Dengan wajah dingin tanpa balas kasihan, mereka memberondong temannya sendiri dengan timah panas. Kejadian ini sungguh menggemparkan dan banyak pakar yang menuding tayangan kekerasan di televisi atau komputer (game dan internet) sebagai biangkerok tindak kekerasan yang terjadi di kalangan anak.

Tudingan terhadap media massa terutama televisi sebagai biang keladi tindak kekerasan dan perilaku negatif lainnya pada pada anak-anak sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Sekitar satu dekade yang lalu, musik rock disalahkan sebagai penyebab kasus pembunuhan di kalangan remaja. Begitupun film kartun berjudul Beavis dan Butthead dituding sebagai penyebab memban-jirnya kasus pembakaran rumah di mana pelakunya adalah anak-anak muda.

Di sekitar kita, rasanya sering kita melihat anak yang baru saja nonton film cowboy di layar televisi, lalu berlari ke halaman rumah kemudian berguling-guling dan berteriak “dor dor.. dor… sambil memegang pistol mainan atau apa saja yang di pegangnya. Sering pula kita mendengar ucapan-ucapan yang kurang pas dilontarkan mereka menirukan idolanya di TV. Begitu pula bagaimana anak-anak meniru berbagai adegan sadis, sensual, dan erotik yang setiap saat dapat disaksikan melalui layar TV. Tokoh-tokoh film anak, seperti Superman, Dora Emon, Satria Baja Hitam, Power Ranger, dan tokoh lainnya sungguh melekat dalam kehidupan mereka. Bahkan kondisi seperti ini dimanfaatkan betul oleh para pedagang. Mereka membuat busana anak yang mirip dengan para tokoh tersebut, dan hasilnya sangat digemari anak-anak.

Kecenderungan lain adalah anak-anak dan para remaja merasa bergengsi bila makan makanan yang sering muncul di layar TV. Makanan fast food seperti fried chichen, pizza, hamburger, dan jenis makanan lainnya yang di negara asalnya merupakan makanan biasa menjadi makanan luar biasa (bergengsi). Anak-anak mulai tahu bahkan paham betul merek-merek dagang terkenal dan lux, termasuk merk mobil yang mungkin mustahil terjangkau oleh kocek orang tuanya. Lebih mengkhawatirkan lagi mereka lebih suka nongkrong di depan TV, diban-dingkan belajar, membaca, atau mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya.

Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi. Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anak-anak. Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.

Potensi Media Televisi

Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel Indonesia, tampak hidup di layar televisi.

Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan. Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari.

Dari segi penontonya, sangat beragam. Mulai anak-anak sampai orang tua, pejabat tinggi sampai petani/nelayan yang ada di desa bisa menyaksikan acara-acara yang sama melalui tabung ajaib itu. Melalui beberapa stasiun mereka juga bebas memilih acara-acara yang disukai dan dibutuhkannya. Begitu pula sebagai media hiburan, televisi dianggap sebagai media yang ringan, murah, santai, dan segala sesuatu yang mungkin bisa menyenangkan.

Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam aspek kognetif, apektif, ataupun psiko-motor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi. Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas. Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar, teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.

Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991), gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan kesan pada diri pemirsa.

Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses penyuntingan.

Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa meng-akrabkan objek yang jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan komunikasi inter-personal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih, simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggaris-bawahi berita, memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya. Mereka mempunyai posisi stategis dalam menyam-paikan pesan pada khalayak.

Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.

Acara Anak dan Film Kartun

Sebagai media massa, tayangan televisi memungkinkan bisa ditonton anak-anak termasuk acara-acara yang ditujukan untuk orang dewasa. Saat ini setiap stasiun televisi telah menyajikan acara-acara khusus untuk anak. Walaupun acara khusus anak tersebut masih sangat minim. Hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YLKI) (Mulkan Sasmita, 1997), persentase acara televisi yang secara khusus ditujukan bagi anak-anak relatif kecil, hanya sekitar 2,7 s.d. 4,5% dari total tayangan yang ada. Yang lebih menghawatirkan lagi ternyata persentase kecil inipun materinya sangat menghawatirkan bagi perkembangan anak-anak.

Tayangan televisi untuk anak-anak tidak bisa dipisahkan dengan film kartun. Karena jenis film ini sangat populer di lingkungan mereka, bahkan tidak sedikit orang dewasa yang menyukai film ini. Jika kita perhatikan, film kartun masih didominasi oleh produk film import. Tokoh seperti Batman, Superman, Popeye, Mighty Mouse, Tom and Jerry, atau Woody Woodpecker begitu akrab di kalangan anak-anak. Begitu pula film kartun Jepang, seperti Doraemon, Candy Candy, Sailoor Moon, Dragon Ball, dst. sangat populer dan bahkan mendominasi tayangan stasiun televisi kita. Sayangnya dibalik keakraban tersebut, tersembunyi adanya ancaman.

Jika kita perhatikan dalam film kartun yang bertemakan kepahlawanan misalnya, pemecahan masalah tokohnya cenderung dilakukan dengan cepat dan mudah melalui tindakan kekerasan. Cara-cara seperti ini relatif sama dilakukan oleh musuhnya (tokoh antagonis). Ini berarti tersirat pesan bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan, begitu pula kelicikan dan kejahatan lainnya perlu dilawan melalui cara-cara yang sama.

Sri Andayani (1997) melakukan penelitian terhadap beberapa film kartun Jepang, seperti Sailor Moon, Dragon Ball, dan Magic Knight Ray Earth. Ia menemukan bahwa film tersebut banyak mengandung adegan antisosial (58,4%) daripada adegan prososial 41,6%). Hal ini sungguh ironis, karena film tersebut bertemakan kepahlawanan. Studi ini menemukan bahwa katagori perlakuan antisosial yang paling sering muncul berturut-turut adalah berkata kasar (38,56%), mencelakakan 28,46%), dan pengejekan (11,44%). Sementara itu katagori prososial, perilaku yang kerapkali muncul adalah kehangatan (17,16%), kesopanan (16,05%), empati (13,43%), dan nasihat 13,06%).

Temuan ini sejalan dengan temuan YLKI, yang juga mencatat bahwa film kartun bertemakan kepahlawanan lebih banyak menam-pilkan adegan anti sosial (63,51%) dari pada adegan pro sosial (36,49%). Begitu pula tayangan film lainnya khususnya film import membawa muatan negatif, misalnya film kartu Batman dan Superman menurut hasil penelitian Stein dan Friedrich di AS menunjukan bahwa anak-anak menjadi lebih agresif yang dapat dikatagorikan anti sosial setelah mereka menonton film kartun seperti Batman dan Superman.

Perbedaan budaya, ideologi, dan agama negara produsen film dengan negara kita jelas akan mewarnai terhadap subtasi film tersebut. Karena film dimanapun tidak sekedar tontonan belaka, ia dapat membawa ideologi, nilai, dan budaya masyarakatnya. Misalnya, mungkin Satria Baja Hitam atau Power Ranger mempunyai andil besar atas terbentuknya sikap keberanian dan anti kezaliman. Tetapi keberanian yang dibutuhkan rakyat Indonesia dan anak Jepang jelas berbeda, paling tidak dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam keseharian masyarakat kita mensyaratkan keberanian ‘apa adanya’ tanpa tersembunyi di balik kecanggihan teknologi. Sehingga diharapkan akan tertanam sikap berani dalam berkreasi sesuai dengan lingkungan di sekitarnya. Sebaliknya keberanian di Jepang dalam lingkungan masyarakatnya sudah ditunjang dengan teknologi yang canggih. Kondisi ini apabila dipandang sama, dihkawatirkan akan melahirkan generasi yang cengeng dan mudah menyerah. Begitu pula aspek-aspek lain masih banyak yang kurang sesuai dengan kondisi sosial budaya dan alam Indonesia. Program anak-anak memang diharapkan dapat menanamkan nilai, norma, krativitas, dan kecerdasan yang ‘membumi’ atau sesuai dengan lingkungan disekitarnya. Hal ini pada akhirnya diharapkan dapat membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan jati diri dan budaya bangsa Indonesia, sehingga mereka menjadi bangga sebagai warga negara Indonesia.

Dampak Tayangan Televisi pada Anak

Gencarnya tayangan televisi yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak membuat khawatir masyarakat terutama para orang tua. Karena manusia adalah mahluk peniru dan imitatif. Perilaku imitatif ini sangat menonjol pada anak-anak dan remaja. Kekhawatiran orang tua juga disebabkan oleh kemampuan berpikir anak masih relatif sederhana. Mereka cenderung menganggap apa yang ditampilkan televisi sesuai dengan yang sebenarnya. Mereka masih sulit membedakan mana perilaku/tayangan yang fiktif dan mana yang memang kisah nyata. Mereka juga masih sulit memilah-milah perilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma agama dan kepribadian bangsa. Adegan kekerasan, kejahatan, konsumtif, termasuk perilaku seksual di layar televisi diduga kuat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak.

Para ahli psikologi menegaskan bahwa perilaku manusia pada hakekatnya merupakan proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi bahwa ia mahluk hidup. Sikap dan pola perilaku itu menurut pandangan behavioristik dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan pengukuhan lingkungan. Bertolak dari pandangan ini, pembiasan dan pengukuhan lingkungan anak dapat dibentuk melalui tayangan televisi yang sesuai dengan nilai, norma, dan kerpribadian bangsa. Karena saat ini tayangan televisi setiap saat bisa ditonton anak-anak.

Masalahnya adalah sejauhmana dampak tayangan televisi tersebut berpengaruh terhadap terhadap perilaku masyarakat khususnya anak-anak. Untuk membuktikan kebenaran ini memang relatif sulit, karena perilaku anak (remaja) anak sangatlah komplek dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Hasil studi yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 1972 dikeluarkan laporan berjudul Television and Growing Up; The Impact of Televised Violence (dalam Dedi Supriadi, 1997) menunjukan gambaran bahwa korelasi antara tayangan tindakan kekerasan di televisi dengan perilaku agresif pemirsa yang umumnya anak muda ditemukan taraf signifikansinya hanya 0,20 sampai 0,30. Tingkat signifikansi sangat rendah ini tidak cukup menjadi dasar untuk menarik kesimpulan yang meyakinkan mengenai adanya hubungan langsung antara keduanya. Ini berarti tayangan tindakan kekerasan bisa saja berpengaruh terhadap sebagian penonton dan dapat juga netral atau tidak mempunyai pengaruh sekalipun.

Faktor Keluarga

Sebagian besar anak hidup di lingkungan keluarga. Pendidikan di keluarga akan memberi landasan bagi kehidupan di masa mendatang. Oleh karena itu perilaku anak sangat dominan dipengaruhi oleh ling-kungan keluarganya (Oos M. Anwas, 1998). Beberapa pakar psikologi mengatakan bahwa apa yang dialami anak di masa kecil, akan membekas dalam diri anak dan mewarnai kehidupannya kelak. Barangkali munculnya berbagai masalah remaja, seperti perkelahian, tawuran narkotika, dan premanisme lainnya bisa saja disebabkan kurang harmonisnya lingkungan keluarga saat ini yang cenderung mengkhawatirkan.

Yang lebih menarik adalah hasil studi pakar psikiatri Universitas Harvard, Robert Coles (dalam Dedi Supriadi, 1997). Temuannya menun-jukan bahwa pengaruh negatif tayangan televisi, justru terdapat pada keharmonisan di keluarga. Dalam temuannya, anak-anak yang mutu kehidupannya rendah sangat rawan terhadap pengaruh buruk televisi. Sebaliknya keluarga yang memegang teguh nilai, etika, dan moral serta orang tua benar-benar menjadi panutan anaknya tidak rawan terhadap pengaruh tayangan negatif televisi. Lebih lanjut Cole menunjukan bahwa memperma-salahkan kualitas tayangan televisi tidak cukup tanpa mempertimbangkan kualitas kehidupan keluarga. Ini berarti menciptakan keluarga yang harmonis jauh lebih penting ketimbang menuduh tayangan televisi sebagai biangkerok meningkatnya perilaku negatif di kalangan anak dan remaja.

Mungkin kita akan lebih yakin terhadap temuan Coles apabila mengkaji bagaimana proses pembentukan perilaku manusia. Pembentukan perilaku didasarkan pada stimulus yang diterima melalui pancaindra yang kemudian diberi arti dan makna berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan yang dimilikinya. Anak, sebagai individu yang masih labil dan mencari jati diri, sangat rentang dengan perilaku peniruan yang akhirnya akan terinternalisasi dan membentuk pada kepribadiannya. Tayangan televisi yang dilihatnya setiap saat masuk ke dalam otaknya. Bagi anak yang berasal dari mutu kehidupan keluarganya baik, semua yang ia lihat di layar televisi dapat disaring melalui suasana keluarga yang harmonis, dimana orang tuanya bisa menjadi panutan. Komunikasi dan contoh orang tua dalam perilaku sehari-hari membuat benteng yang kokoh dalam membendung semua pengaruh buruk di layar televisi. Sebaliknya, anak yang berasal dari keluarga yang mutu kehidupan keluarganya rendah, semua tayangan di televisi sulit disaring, karena mereka belum bisa membedakan mana perilaku yang baik/buruk. Begitu pula dalam lingkungan keseharian di keluarganya tidak ditemukan sikap dan perilaku normatif yang dapat dijadikan filter tayangan televisi.

Idealnya, para orang tua selalu menjadi pendamping anak dalam menonton televisi. Acara-acara mana yang pantas ditonton mereka. Begitu pula mereka diberikan penjelasan mengenai adegan/peristiwa dalam film termasuk adegan fiktif. Namun masalahnya, apakah sanggup para orang tua mendampingi putra-putrinya nonton TV. Kini si keci dimungkinkan nonton TV setiap saat dengan berbagai acara termasuk film adegan kekerasan/sadisme. Semen-tara itu para orang tua sibuk dengan tugas pekerjaan sehari-harinya. Oleh karena itu benteng yang paling kuat adalah bagaimana menciptakan keluarga yang harmonis. Komunikasi orang tua dan anak dituntut lancar dan berkualitas. Nilai, norma, dan ajaran agama dijadikan landasan hidup dalam keluarga. Kondisi seperti ini akan menjadi benteng yang kokoh bagi anak dalam menyaring gencarnya tayangan televisi.

Catatan Akhir

Media televisi dapat menyajikan pesan/objek yang sebenarnya termasuk hasil dramatisir secara audio visual dan unsur gerak (live) dalam waktu bersamaan (broadcast). Pesan yang dihasilkan televisi dapat menyerupai benda/objek yang sebenarnya atau menimbulkan kesan lain. Oleh karena itu media ini memiliki potensi besar dalam merubah sikap dan perilaku masyarakat. Sementara itu persaingan di antara stasiun televisi semakin ketat. Mereka bersaing menyajikan acara-acara yang digemari penonton, bahkan tanpa memerhatikan dampak negatif dari tayangan tersebut. Penonton televisi sangatlah beragam. Di sana terdapat anak-anak dan remaja yang relatif masih mudah terpengaruh dan dipengaruhi.

Gencarnya tayangan televisi yang berbau kekerasan, konsumtif, sadisme, erotik, bahkan sensual menimbulkan kekhawatiran para orang tua. Kondisi seperti ini sangatlah wajar, karena kini anak-anak mereka bisa menyaksikan acara televisi setiap saat. Tindak kekerasan dan perilaku negatif lainnya yang kini cenderung meningkat pada anak/remaja langsung menuding televisi sebagai biang keroknya. Tidak sedikit para orang tua mencacimaki/ protes terhadap tayangan televisi yang dirasakan kurang pas. Sementara itu para orang tua terus sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mungkin kita (para orang tua) perlu merenungi temuan Coles, bahwa jauh lebih penting menciptakan keluarga yang harmonis dibandingkan menyalahkan tayangan televisi, karena faktor keharmonisan keluarga bisa menangkal pengaruh negatif televisi. Di sini jelas perlu adanya keseimbangan antara keluarga (orang tua) dan pihak stasiun televisi. Keluarga dituntut untuk menciptakan keharmonisan keluarga. Menjaga komunikasi dan menanamkan nilai serta norma agama pada anak. Begitupun para pengelola stasiun televisi hendaknya mempunyai tanggungjawab moral terhadap acara-acara yang ditayangkannya. Mereka hendaknya tidak sekedar mencari untung (kue iklan) terhadap acara yang ditayangkannya. Stasiun televisi merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Mereka mempunyai tanggung-jawab untuk menjaga dan sekaligus mening-katkan nilai dan norma-norma yang ada di masyarakat, termasuk mendidik anak-anak.
(Drs. Oos M Anwas, www.pustekkom.go.id)

PlayStation Bikin Anak Cuek dan Sembrono

Bagi sebagian masyarakat dan orangtua, kegemaran anak terhadap PlayStation dianggap untuk mengisi waktu, meningkatkan ketrampilan dan konsentrasi anak. Bahkan ada yang beranggapan, anak lebih baik di PS daripada keluyuran, bermain tidak karuan atau berpanas-panasan. Namun sebenarnya, kalau dikaji lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya. Karena anak menjadi kurang sosialisasi dan perkembangan kecerdasan emosi menjadi terhambat.

Psikolog dari Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUP Dr Sardjito, Dra Indria Laksmi Gamayanti mengatakan, sebenarnya latihan ketrampilan melalui PS tidak begitu besar. “Permainan di PS kan sudah diprogram, bukan merupakan tantangan untuk berkreasi, sehingga anak kurang terstimulasi perkembangan kreatifitasnya. Jadi, anak lebih baik bermain di lingkungan bebas yang kaya akan stimulasi,” kata Yanti.

Di sisi lain, kata Yanti, akan yang kecanduan PS sudah terbiasa dengan stimulasi yang bergerak, berwarna dan bercahaya serta bersuara. Akibatnya bila ada stimulasi lain yang intensitasnya lebih rendah, anak akan menjadi cuek. “Anak yang cuek, mudah marah, cenderung egosentris, tidak sabaran dan sembrono, itu karena anak kurang bersosialisasi. Dan kecanduan PS bisa membuat anak menjadi cuek, akibatnya sosialisasi yang kurang,” tambahnya. Selain itu, sinar elektromagnetik dari layar PS yang cukup lebar, bila terpancar terus menerus sangat berpengaruh terhadap kesehatan mata.

Bila ini dibiarkan terus menerus, anak akan mengalami gangguan pemusatan perhatian. Yanti mengatakan, dewasa ini, semakin banyak orangtua yang mengeluhkan anaknya mengalami gangguan pemusatan perhatian sehingga konsentrasi belajar menurun dan prestasi sekolah menjadi turun. Bahkan, pernah ada seorang guru di Sleman yang mengeluh karena saat masuk siang kehilangan 10 anak didik. Setelah diusut, ternyata sang anak asyik di PS. Ini menunjukkan anak yang sudah kecanduan PS, bahkan sudah berani. “Guru juga mencermati, anak yang kecanduan PS ternyata prestasinya menurun dan malas-malasan serta disiplinnya menurun,” tambah Yanti. Masalah lain yang juga mengkhawatirkan adalah, lingkungan di sekitar PS. karena tak jarang, PS menyatu dengan persewaan VCD, yang juga menyewakan VCD porno. Anak yang bermain PS, sengaja atau tidak, ikut melihat VCD yang dipertunjukkan bagi orang dewasa. Karena itu, menurut Yanti, pengusaha juga harus memiliki tanggung jawab moril.

Memiliki anak yang sudah kecanduan PS, memang repot. Sudah banyak orangtua yang mengeluh namun merasa tidak mampu mencegah, karena sudah sangat akrab dengan kehidupan anak sehari-hari. Mengingat banyaknya kerugian, menurut Yanti, PS sebenarnya juga merupakan bahaya laten yang kini belum disadari oleh masyarakat. Karena itu, sudah saatnya, PS yang makin menjamur ini ditata jam operasinya.

Political will dari pemerintah sangat diperlukan, begitu juga kerjasama antara orangtua, guru dan masyarakat serta pemerintah untuk mengatur dan menanggulangi dampak negatifnya,” kata Yanti. (KR)

Latihan Menyeimbangkan Otak Kanan dan Kiri

Kreativitas dan imaginasi sangatlah penting dalam kehidupan seseorang. Jika sedari dini kreativitas anak sudah dikembangkan, maka kelak dalam dirinya akan terbentuk sikap dan pribadi kreatif dan tidak tergantung pada lingkungannya. Dia akan lebih siap dan mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan dan tuntutan yang terjadi dalam lingkungannya.

Otak manusia terdiri dari belahan otak kiri dan kanan. Otak kiri berkaitan dengan fungsi akademik yang terdiri dari kemampunan berbicara, kemampuan mengolah tata bahasa, baca tulis, daya ingat (nama, waktu dan peristiwa), logika, angka, analisis, dan lain-lain. Sementara otak kanan tempat untuk perkembangan hal-hal yang bersifat artistik, kreativitas, perasaan, emosi, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, khayalan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, pengembangan kepribadian. Para ahli banyak yang mengatakan otak kiri sebagai pengendali IQ (Intelligence Quotient), sementara otak kanan memegang peranan penting bagi perkembangan EQ (Emotional Ouotient) seseorang.

Sayangnya sistem pembelajaran di negeri kita masih mengacu pada perkembangan otak kanan semata. Padahal di Eropa dan Amerika misalnya, pendidikan yang diterapkan berupa kegiatan menari, menyanyi, melukis dan sebagainya pada awal-awal pendidikan. Mereka yakin dengan merangsang seni, kreativitas dan imajinasi terlebih dahulu, ketika belajar yang matematika dan analogis nantinya bisa lebih baik. Kondisi ini terbalik di Indonesia yang nampak dari kurikulum nasionalnya tampak cenderung melalaikan pengembangan kreativitas dan imajinasi anak.

Padahal kreativitas dan imajinasi sangatlah penting dalam kehidupan seseorang. Jika sedari dini kreativitas anak sudah dikembangkan, maka kelak dalam dirinya akan terbentuk sikap dan pribadi kreatif dan tidak tergantung pada lingkungannya. Dengan demikian maka dia akan lebih siap dan mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan dan tuntutan yang terjadi dalam lingkungannya.

Namun, bukan berarti belahan otak kanan lebih penting daripada belahan otak yang kiri, ataupun sebaliknya. Kedua-duanya sangat penting, karena itu keduanya harus dikembangkan secara seimbang agar fungsi masing-masing belahan berjalan seimbang dan saling menguatkan. Jika hanya terfokus pada salah satu belahan maka belahan yang kurang berkembang akan terhambat dalam menjalankan fungsinya. Anak menjadi miskin kreativitas bila ia lebih banyak dirangsang untuk menggunakan belahan otak kirinya. Sebaliknya jika fungsi belahan otak kanannya yang lebih kerap digunakan, nantinya anak malah lambat dalam berpikir logis, linier dan teratur yang juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa latihan dan kebiasaan ini sebaiknya dilakukan tiap hari.

Meningkatkan Daya Ingat dan Logika Berpikir
Banyak orangtua yang berpandangan bahwa dengan sekali membaca anak yang pintar akan bisa mengingatnya dengan baik. Maka ketika seorang anak kemudian lupa pada apa yang baru dibacanya kemudian dianggap daya ingatnya rendah. Memang ada 1% anak yang seperti itu, tetapi kebanyakan anak membutuhkan waktu paling tidak 3 kali untuk mengulang dan mengingatnya kembali agar kuat tertanam di benaknya. Jadi tidak bosan mengulang membaca pelajaran adalah hal yang harus dibiasakan pada anak. Karena belum paham hal tersebut maka kita sebagai orangtua harus memotivasi mereka. Dengan bermain tebak-tebakan misalnya maka anak akan terdorong untuk mengingat kembali apa yang barusan dibacanya. Atau sesekali orangtua yang membaca dan anak mendengarnya, kemudian tanya anak kembali beberapa hal yang diingatnya. Bahkan main tebak-tebakan ini bisa dilakukan tiap waktu, sambil makan malam, sambil menonton TV, dalam perjalanan mengantarnya sekolah misalnya.

Alat Peraga dan Optimalkan Panca Indera
Alat peraga merupakan alat bantu yang sangat bagus untuk membuat ingatan anak makin kuat serta mudah mencerna sehingga daya analogi-logikanya berjalan. Misalnya menerangkan pembagian, pergunakan kerikil atau biji-bijian sehingga anak mudah memahami bahwa 20 biji kalau dibagi 2 maka sama rata tiap bagian akan berjumlah sepuluh. Dengan makin banyak alat bantu yang bisa disentuh, dilihat, dibaui dan didengarnya maka akan makin kuat memori anak. Jadi optimalkan kelima panca inderanya untuk membentuk kesan yang kuat pada memorinya.

Biasakan Rapi dan Disiplin
Sementara untuk membantu anak tidak melupakan barang-barangnya dan tidak teledor, maka biasanya anak bertindak rapi dan disiplin untuk meletakkan barang-barang sesuai dengan tempatnya. Misalnya bedakan di mana tempat menaruh peralatan sekolahnya, buku-buku pelajaran, alat-alat bermain, peralatan keterampilan, buku-buku sekolah maupun buku-buku komiknya. Kebiasaan kecil ini kalau diremehkan akan membentuk sikap teledor dan pelupa sampai dewasa.

Musik, Seni dan Olah Raga
Di pagi hari, hidupkan musik yang dinamis, siang hari musik yang lebih menenangkan agar anak bisa beristirahat. Musik apapun merupakan stimulan yang ampuh untuk membuat kita tenang atau memberikan dorongan semangat. Dorong anak mengembangkan bakat seni atau olah raga yang nampak disukainya. Bermain yang membutuhkan banyak gerakan fisik juga merupakan salah satu bentuk olah raga ringan yang bagus untuk merangsang otak kanannya seperti bersepeda atau kejar-kejaran. Akan lebih bagus lagi apabila lebih rutin dan terkontrol seperti berenang, lari pagi tiap minggu, karate dll.

Membaca dan Berbahasa yang Baik dan Benar
Membaca merupakan media untuk membuka jendela dunia. Kebiasaan membaca buku-buku yang baik yang memiliki kosa kata dan dialog yang baik merupakan contoh yang sering menjadi bahan imitasi berbahasa anak sehari-hari. Maka berikan buku-buku bacaan yang berkualitas. Demikian pula cara kita berbicara akan sering didengar anak dan menjadi contoh pula caranya berkomunikasi dengan orang lain, jadi pergunakan cara berbahasa yang baik dan benar. Membacakan cerita sebelum tidur, selain akan menambah kosa kata anak juga akan melatihnya berbahasa sesuai dengan dialog yang didengarnya.

Melatih Daya Tahan terhadap Rasa Kecewa
Banyak orangtua yang merasa bersalah karena masa kecilnya yang serba kekurangan atau merasa kurang waktu untuk anak, kemudian menggantikannya dengan memenuhi segala permintaan anak. Pada akhirnya anak sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ditolak keinginannya, bagaimana menahan keinginan, ataupun rasa kecewa ketika gagal mencapai suatu hal. Padahal hal-hal ini sangat berguna untuk merangsang kemampuan mengontrol diri dan melatih stabilitas emosinya, kemampuan pada otak kanan yang berhubungan dengan kecerdasan emosinya kelak. Jadi sesekali boleh kita melakukannya, tetapi tentu saja jangan biarkan anak frustrasi berkepanjangan, komunikasi dan berikan pengertian sehingga anak bisa belajar mentoleransi dan beradaptasi dengan rasa kecewanya. Selamat berlatih dan membiasakannya menjadi kebiasaan rutin dan baik. (www.balipost.co.id)

Iklan TV Pengaruhi Pola Konsumsi Anak

Iklan melalui media massa ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap pola konsumsi anak. Dari berbagai media massa yang ada, tayangn iklan melalui televisi terbukti lebih efektif ketimbang media lain, seperti majalah, koran ataupun brosur. Namun perlu hati-hati, sebab tanyangan iklan bisa berdampak pada perubahan perilaku anak. Karena itu, orangtua disarankan untuk mendampingi anak ketika menonton televisi.

Di kalangan dunia usaha, tentu tidak asing dengan idiom ‘pengusaha yang tidak bersedia beriklan (melalui berbagai cara dan media) akan ditinggalkan konsumen’. Karenanya, banyak pelaku usaha yang kemudian menetapkan iklan sebagai sarana penting bagi distribusi usahanya. Melalui cara ini, mereka juga menjajaki kemungkinan untuk melakukan segmentasi pasar.

Dalam kaitan itu, anak-anak – karena kepolosan dan keluguannya – menjadi sasaran bidik lantaran memiliki potential demand yang sangat menggiurkan bagi pelaku usaha. Dari sisi konsumen, mereka sangat ‘lahap’ terhadap produk-produk industri. Asumsi yang demikian telah menggerakkan para industrialis untuk menggunakan iklan dalam memasarkan produknya.

Namun, seberapa besar pengaruh iklan terhadap pola konsumsi anak? Setidaknya hasil penelitian telah membuktikan pengaruh tersebut. Pengaruh ini ditunjukkan melalui pembelian produk makanan dan minuman kemasan yang sebagian besar informasinya diperoleh anak melalui iklan, angkanya mencapai 87,22 persen. Dari persentase tersebut, 46,67 persen informasi didapat melalui TV. Sedang sisanya, melalui koran / majalah (28,33%), brosur (12,22%), melalui teman (8,33%), dan lainnya (4,45%).

Penelitian ini mengambil 300 responden yang terdiri dari siswa praTK, TK hingga SD. Dari hasil penelitian itu diketahui, 300 anak-anak menggunakan uang sakunya (Rp. 5.900 / hari) untuk membeli makanan dan minuman (105), membeli mainan (56), membeli alat belajar (52), biaya transpor (44) dan lain-lain (43). Mereka yang menggunakan uang sakunya untuk membeli makanan dan minuman, sebagian besar (68,58%) memilih dalam bentuk kemasan, sedang sisanya memilih makanan dan minuman curah. Hal ini menunjukkan bahwa makanan dan minuman dalam bentuk kemasan lebih mempunyai daya tarik daripada dalam bentuk curah.

Mengingat televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perilaku anak, maka orangtua sebaiknya lebih selektif dalam memilihkan program untuk mereka. Hal ini diperlukan agar orangtua benar-benar bisa menjadi filter yang baik atas pola perilaku anak.(KR)

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???