9 Indikasi Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan

Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (hr. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut membuat kita perlu waspada untuk menjauhi dan tidak terjerumus di dalamnya. Berikut ini beberapa uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk disinggung dalam hadits Rasulullah. Agar kita dapat lulus dari madrasah ramadhan dan menjadi pribadi yang berkualitas maka perlu dihindari beberapa indikator gagalnya ramadhan, antara lain:

1. Ketika kurang optimal dalam melakukan “warming up” dengan memperbanyak ibadah sunah di bulan Sya’ban seperti puasa sunah, memperbanyak ibadah shalat, tilawatul Qur’an sehingga akan mengkondisikan jiwa dan fisik dalam menerima kehadiran tamu agung “bulan Ramadhan” menjadikan tubuh dan hati kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan, sebagaimana Rasulullah mengkondisikan para sahabat ketika target pembacaan Al-Qur’an yang dicanangkan minimal satu kali khatam tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan.
2. Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya.
3. Ketika puasa tidak menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram.
4. Ketika malam-malam Ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan.
5. Ketika berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang.
6. Ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah.
7. Ketika hari-hari menjelang Idul Fitri sibuk dengan persiapan lahir tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada malam terakhir untuk memperbanyak ibadah.
8. Ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana “hari merdeka” dari penjara untuk kembali melakukan aktivitas penyimpangan.
9. Setelah Ramadhan nyaris tidak ada ibadah yang ditindak lanjuti pada bulan-bulan selanjutnya.

Menjadi alumni teladan bulan Ramadhan

Mari sama-sama perhatikan beberapa rambu berikut agar kita tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan amal ibadah puasa. Anggaplah Ramadhan kali ini adalah kesempatan Ramadhan terakhir. Sebisa mungkin isilah Ramadhan dengan amal ibadah berkualitas.

  • Jauhi sikap menunda-nunda amal ibadah. Tanamkan sikap untuk tidak mudah tunduk pada perasaan lelah dari mengerjakan amaliah Ramadhan.
  • Lakukan muhasabah dan evaluasi harian sebelum tidur terhadap amal yang telah dilakukan.
  • Hindari pekerjaan yang terlalu berat. Sedapat mungkin putuskan atau kurangi melakukan aktivitas yang bernuansa hiburan yang tidak memiliki kaitan dengan ibadah di bulan Ramadhan.
  • Sering-sering dan perbanyak bertemu dengan komunitas dan lingkungan yang mengajak kita untuk mengingat Allah.
  • Hindari terlalu kenyang ketika berbuka puasa. Tanamkan ibadah sunah (i’tikaf) di masjid sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.(PKS)
Iklan

Emansipasi Wanita dalam Islam

Jazirah Arab dan sebagian besar belahan dunia pada tanggal 12 Rabiul’awal, yang bertepatan dengan bulan Agustus 570M, berada dalam periode kemanusiaan yang tergelap. Harkat dan martabat manusia diukur dari seberapa kuat adan kayanya seseorang. Perempuan, yang menempati posisi terlemah dalam kehidupan masyarakat, berada dalam posisi terendah strata sosialnya. Keberadaannya seniali dengan harta dagangan yang bisa diperjualbelikan dan diwariskan, bahkan kelahirannya dianggap sebagai sebuah aib yang perlu ditutupi. Maka penguburan hidup-hidup bayi perempuan yang baru lahir menjadi pemandangan lumrah dalam kehidupan masyarakat Arab.

Di luar Arab pun, keadaan tidak jauh berbeda. Romawi dan Persia, misalnya. Pada dua kerajaan adikuasa pada masa itu, nasib perempuan tidak lebih baik. Banyak wanita menjadi budak belian dan pemuas nafsu, atau korban persembahan bagi dewa-dewa. Seperti diilustrasikan oleh Al-Abrasyiy dalam buku ”Keagungan Muhammad” (1985), pada tahun 586M (sekitar 16 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad) di Perancis pernah diselenggarakan suatu sidang yang membahas apakah wanita itu termasuk manusia atau bukan.

Hanya sedikit yang mengetahui bahwa pada tanggal 12 Rabiul’awal tersebut lahir seseorang yang beberapa puluh tahun kemudian akan mengangkat derajat kaum wanita ke puncak keangungan. Menjadikannya tiang negara dan meletakkan surga di bawah telapak kakinya.

Muhammad, yang jauh sebelum gerakan feminisme dan emansipasi melanda dunia, telah lebih dulu mencetuskan gerakan kesetaraan martabat manusia. Ribuan tahun sebelum Lucretia Mott dan Elizabeth Cady Stan menggelar konvensi yang membahas penyetaraanhak sosial, sipil, dan agama kaum wanita di Amerika,yang menghasilkan satu deklarasi yang dikenal dengan nama ”The Declaration of Sentiment”. Muhammad telah memperkenalkan suatu konsep yang indah. Yakni, satu-satunya hal yang bisa menbedakan manusia satu dengan yang lain, yaitu ketakwaannya kepada Allah, Tuhan semesta alam. Allah berfirman, ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari (jenis) laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat 13).

Di luar ketakwaan, Islam memberlakukan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan dalam hampir semua aspek kehidupan. Sebuah hal baru yang sebelumnya tidak dikenal di panggung sejarah mana pun. Kebebasan baru diperoleh kaum perempuan untuk belajar, berinteraksi sosial, mendapatkan warisan, termasuk dalam mencari penghidupan dan memiliki kekayaan sendiri. Firman Allah, ”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena, bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS An-Nisa 32).

Beberapa perbedaan kecil yang diberlakukan bagi laki-laki dan perempuan tidak lain merupakan anugerah dari sifat Rahman dan Rahimnya Sang Khalik, yang maha memahami batas maksimum masing-masing ciptaan-Nya.dan hanya yang terbaiklah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, meski terkadang anugerah tersebut diterima dengan salah sangka. Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, dalam karyanya yang terkenal ”Al-Hikam”, berkata, ”Jika seorang hamba tidak berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, hendaklah berbaik sangka kepada-Nya karena nikmat dan rahmat yang telah diterima dari-Nya”.

Risalah Muhammad juga memberikan apresiasi yang sangat besar kepada para wanita yang berprestasi dan menjadi ikon peradaban dan perubahan. Misalnya Hajar, ibunda Nabi Ismail, yang perjuangannya untuk menyelamatkan anaknya diabadikan dalam ritus haji; Asiyah, istri Firaun, yang mengasuh Musa; Maryam, perawan suci ibunda Nabi Isa; Khadijah, wanita muslimah pertama yang mengorbankan jiwa, raga, dan harta miliknya untuk menegakkan risalah Islam; Fatimah Az-Zahra, pewaris mahkota spiritual Rasulullah; Aisyah, yang menjadi salah satu rujukan fatwa setelah Rasul Wafat; dan masih banyak lagi yang diabadikan dengan tinta emas dalam kitab suci dan literatur-literatur sejarah Islam. Belakangan muncul nama-nama seperti Fathimah Memissi dan Aisyah Abdurrahman Bintusy-Syathi’, yang melanjutkan tradisi intelektual dan spiritual kaum muslimah.

Dari mereka, sepatutnya seorang muslimah berkaca bahwa perubahan dan kemajuan yang seharusnya digagas oleh kaum wanita adalah kemajuan yang bermuara padatujuan ”li i’lai kalimatillah”, meninggikan kalimat Allah, bahwa kebebasan yang diperjuangkan adalah kebebasan yang berada dalam koridor ketakwaan. Kesetaraan hak dengan kaum laki-laki, baik dalam hal belajarmaupun bekerja, misalnya, adalah dalam rangka membangun kapasitas diri untuk mengemban tugas suci berupa amanah Allah menjaga keberlangsungan lahirnya manusia-manusia yang berkualitas. Bukan kebebasan yang kebablasan sehingga justru semakin menenggelamkan wanita dari keluhuran nilai-nilai kemanusiaannya sendiri. (Judul asli “Maulid dan Wanita”, Alkisah 09/Tahun 3/2005)

Hukum Memakai Ayat Al-Qur’an dan Lafadz Adzan sebagai Ring Tone HP

Telah berkembang luas akhir-akhir ini, pada sebagian umat Islam fenomena menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz Adzan sebagai ring tone HP mereka. Dengan tujuan menjauhi ring tone musik yang diharamkan. akan tetapi, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya. Ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan sesungguhnya adalah lafadz-lafadz yang digunakan dalam beribadah. Allah SWT sudah menjadikannya terkait dengan hukum-hukum syariat baik qira’ah Al-Qur’an atau sebagai panggilan untuk shalat. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits yang menerangkan tentang itu. Dari Malik bin al-Khuarits ra, dia berkata, bersabda Rasulullah SAW:
Jika telah datang waktu shalat maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan.” (HR Bukhari Muslim). Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra dan Aisyah ra, “Sesungguhnya Bilal menyerukan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi maktum menyeru (Adzan).” Maka prinsip dasar kita dalam beragama adalah ittiba‘ (mengikuti sunnah) bukan ibtida‘ (menambah atau mengurangi sunnah). andaikan agama ini berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, maka adzan yang lebih utama tentu untuk shalat ‘ied atau khusuf (shalat gerhana) daripada shalat lima waktu. Maka karena dasar agama ini adalah mengikuti sunnah, sehingga yang lebih utama adalah tidak menjadikan lafadz adzan untuk perkara-perkara dunia baik untuk ring tone HP ataupun alarm pada jam beker an semacamnya, selain adzan yang digunakan untuk penanda masuknya waktu shalat.

Maka menjadikan ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan untuk ring tone HP dan sejenisnya adalah sudah termasuk hal yang sia-sia. Adapun pelakunya telah masuk dalam firman Allah SWT,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Dan berkata Rasul, “Wahai Rabb sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai yang disia-siakan.” (QS. al-Furqan:30)

Hendaknya setiap kita mengetahui, bahwasanya dzikir kepada Allah akan dinilai sebagai ibadah jika dilakukan dalam bentuk yang disyariatkan bukan dengan perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya syarat suatu amalan adalah ittiba’ dan ikhlas. Tidaklah masuk akal Allah SWT menurunkan Al-Qur’an untuk dijadikan ring tone untuk menandakan adanya penelpon. Dan barangsiapa yang merasa melakukan demikian itu karena senang mendengarkan Al-Qur’an maka kami katakan, sesungguhnya mendengarkan Al-Qur’an ada beberapa jalan. Di antaranya adalah melalui kaset dan radio. Maka orang yang meletakkan kaset dalam tape recorder pasti dia berniat untuk mendengarkannya. Akan tetapi siapa yang menggunakannya sebagai ring tone HP, justru mempunyai tujuan lain yaitu sebagai tanda adanya penelpon, dan inilah yang dilarang. Andaikan saja seseorang ingin mendengarkan Al-qur’an sedang dia berad di tempat yang najis, maka kita katakan bahwa perbuatan ini tidak pantas bagi Al-Qur’an sehingga dia tidak boleh mendengarkannya. Jika dia membantah dengan alasan ingin mendengarkan Al-Qur’an, hal inipun tidak dapat dibenarkan karena tidak diperdengarkan dengan cara yang benar.

Kenyataannya, begitu ayat berbunyi langsung dimatikan, karena memang tujuannya bukan untuk mendengarkan ayat.

Musibah yang ditimbulkan dari perbuatan ini tidak terhenti pada hal ini saja tetapi akan berimbas pada yang lain. Lihat saja, ketika datang telepon dari seseorang, sangat mungkin HP yang sedang meperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an atau lafadz adzan itu akan segera dimatikan. Bahkan dia (penerima) menggerutu dan kesal setiap kali ring tone itu berbunyi, padahal ring tonenya adalah bacaan ayat-ayat Al-Qur’an atau lafadz Adzan. Seandainya ada yang membela diri bahwa dia mematikan HP dan menggerutu itu karena adanya penelopon yang tidak disukainya bukan karena ayat-ayat Al-Qur’an atau lafadz Adzan tadi, kami katakan, “Akan tetapi perbuatan yang kau lakukan ini terjaditerhadap ayat-ayat Al-Qur’an atau lafadz Adzan yang kau jadikan sebagai ring tone, maka mengapa kau jadikan ayat-ayat Al-Qur’an atau lafadz Adzan sebagai sasaran? Apakah ini masih termasuk memuliakan ayat-ayat Al-Qur’an atau lafadz Adzan?” Allah SWT berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka dia termasuk dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj:32)

Oleh karenanya dalam hal ini, lebih utama bagi seseorang untuk mengganti ring tonenya dengan suara-suara yang lain, yang tidak berbau agama juga bukan pula berupa musik atau nyanyian. Inilah jalan yang lebih selamat bagi semuanya. (Qiblati)

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???