Dimanakah Kebahagiaan?

Ada dua ekor anjing yang bersahabat. Anjing yang besar dan anjing yang kecil. Anjing yang kecil selalu mengeluh tentang penderitaan hidupnya dan selalu berharap kapan kiranya dewa keberuntungan akan datang untuk menolongnya agar terlepas dari penderitaan dunia.

Anjing yang tua selalu menasehati anjing yang kecil dan berkata: “Meskipun tak punya rumah tetapi kita bisa tinggal di manapun. Hidup di dunia ini asal tidak mengalami kelaparan dan kedinginan sudah cukup. Jika dipelihara oleh manusia dan menjadi seekor anjing yang meminta belas kasihan majikan, maka akan kehilangan kebebasan dan kehormatan.”

Anjing kecil tersebut tidak mau mendengar nasehat anjing tua, selalu bermimpi bahwa dirinya -dari anjing yang bebas mengembara- menjadi anjing yang dipelihara manusia.

Pada suatu hari, anjing kecil tersebut pergi ke tempat peramal dan bertanya: “Dimanakah kebahagiaan itu berada?” “Kebahagiaan itu berada pada ekor kamu!”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, anjing kecil tersebut mati-matian berputar ingin menggigit ekornya untuk menangkap kebahagiaan. Dia lari sekuat-kuatnya hingga berkeringat, tetapi tetap tidak dapat menggigit ekornya. Akhirnya dengan letih dia berkata kepada anjing tua: “Menurut ramalan, kebahagiaan saya berada pada ekor saya. Tetapi saya tidak dapat menangkap kebahagiaan. Tolong beritahu, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan kebahagiaan?”

Anjing tua dengan tersenyum berkata: “Saya mencari kebahagiaan dengan berjalan menuju ke depan. Tidak pernah berkeluh kesah tentang masa lampau, tidak pernah kuatir dan takut tentang keadaan sekarang dan juga tidak pernah kuatir tentang masa yang akan datang. Asalkan kaki saya melangkah ke depan maka kebahagiaan yang berada di ekor saya pasti mengikuti saya.”

Dimanakah sesungguhnya kebahagiaan berada? Rasa curiga sering membuat kita jauh dari pandangan kebahagiaan. Keragu-raguan sering membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh kebahagiaan. Demikian pula rasa iri hati membuat pandangan kita kabur terhadap kebahagiaan, dan melamun membuat kita lepas dari pelukan kebahagiaan.

Jangan mencari kebahagiaan di luar diri, jangan mengemis kepada siapapun. Kebahagiaan berada di dalam batin kita sendiri.

(fransisca.erlinasari@…
Disadur oleh: Tan Chau Ming
dari buku Maha Bhiksu Shing Yun
“I Zhe Lu Hwa Liang Yang Ching”)

Iklan

Pujian yang Membangkitkan Semangat

Seorang pejabat pemerintah dinasti Tang (618-907) yang berpangkat tinggi bernama Leou Bei, yang juga seorang sarjana terkenal dalam kesusastraan klasik, diturunkan pangkatnya menjadi mayor dan ditugaskan ke daerah terpencil dan tandus, di mana orang tinggal berdampingan dengan penduduk asli. Kebudayaan dan tingkat kehidupan penduduk asli benar2 berbeda dan sangat primitif.

Suatu hari, putra kepala suku setempat, yang selama empat tahun telah mengabdikan dirinya untuk mempelajari kesusastraan, meski berprestasi sedang2 saja, dengan rendah hati bertandang ke kediaman Leou Bei dan menyajikan beberapa karya terbaiknya. Dia meminta pendapat sang mayor. Seraya membaca setiap karya dengan seksama, mayor baru ini jelas2 tampak puas. Pertama-tama dia memuji tinggi2 artikel yang biasa2 saja itu dan kemudian memberikan beberapa saran yang membangun. Dengan rasa hormat yang dalam, sang tamu secara antusias berterima kasih kepada si mayor dan pulang.

Salah seorang asisten mayor itu, yang sedang berdiri di dekatnya dan melihat karya2 itu, mengetahui kalau pujian itu tidak selayaknya diberikan. Karena merasa penasaran, dengan sopan dia bertanya, “Tuan, saya tidak mengerti. Jika saya boleh bertanya, mengapa anda tidak memberikan pendapat anda yang sebenarnya mengenai karya2 kelas tiga tersebut?”

Kamu tahu.” Tuan itu terdiam, merenung sejenak,, dan kemudian menjawab dengan tenang. “Ini adalah daerah yang kurang berkembang. Kita tidak seharusnya menggunakan ukuran kesusastraan kita yang cukup maju untuk mengukur kemampuan mereka. Kita harus menilai mereka menurut situasi mereka dan yang sepantasnya. Anak muda itu, yang ayahnya seorang kepala suku yang buta huruf, telah belajar sangat keras tanpa bantuan seorang guru. Dia menunjukkan keberanian untuk bertemu dengan saya dan melihat artikel2nya. Saya tidak seharusnya membuatnya kecewa. Setelah menerima komentar2 saya yang mendukung, ia akan dengan tekun mengikuti saran2 saya. Teman2 sebayanya akan terkesan dan mengikutinya. Saya harus mendorongnya untuk tetap terus mempelajari kebudayaan kita, yang akan menguntungkan baik bagi dirinya sendiri maupun negaranya. Pendidikan dapat memperluas wawasan, mengurangi salah komunikasi, dan menghindarkan masalah2 di masa depan. Sebagai konsekuensinya, ini akan melenyapkan tingkat perselisihan dan konflik di antara pendatang baru dan penduduk asli. Dalam jangka panjang hal ini secara positif akan penting bagi ketentraman dinasti kita. Mengapa saya harus bersikap angkuh dan mengecam secara keras jika tak ada ruginya bagi saya untuk memberikan pujian saya yang layak untuk diterima?”

Asisten mayor itu benar2 terkesan dengan wawasan tuannya. Saran2 akan diterima secara lebih baik jika didahului dengan pujian2 yang bersifat umum daripada kritikan yang bermaksud baik, yang dapat menyinggung atau mengecilkan hati seseorang.

(From Wisdom’s way by Walton C.Lee)

Benar-Benar Melihat

Hidungnya pesek sekali, seperti pernah jatuh dari gendongan ibunya ketika masih bayi. Telinganya dua kali – atau mungkin malah dua setengah kali – terlalu besar untuk ukuran kepalanya. Dan matanya! Matanya menonjol seperti mau keluar dari rongganya. Tapi Tim mesti mengakui, pakaian anak itu bagus. Namun tetap saja anak itu anak paling jelek yang pernah dilihatnya.

Tapi kenapa anak baru itu bisa kelihatan begitu akrab dengan Jennifer Lawrence? Ia bersandar di locker Jennifer, seakan-akan mereka berdua sahabat karib. Jennifer adalah seorang cheerleader, juga salah satu anak perempuan paling oke di sekolah. Kenapa gadis itu tersenyum pada si anak baru, bukannya mengerutkan hidung seperti yang ia lakukan kalau melihat Tim? ‘Aneh,’ pikir Tim. ‘Benar-benar aneh.’

Saat makan siang, Tim sudah lupa tentang anak baru itu. Ia duduk di mejanya yang biasa – di meja sudut, sendirian. Tim seorang penyendiri. Wajahnya tidak sejelek anak baru itu, hanya ia agak gemuk dan berkesan kuper. Tidak banyak yang mau bicara dengan Tim, tapi ia sudah terbiasa. Ia telah menyesuaikan diri dengan keadaannya. Ia sudah memakan sandwich mentega kacanya separuh. Sandwich itu juga diberinya saus tomat (ia selalu menambahkan saus tomat pada semua makanannya). Ketika ia mengangkat wajah, kembali ia melihat anak baru itu, sedang membawa nampan makan siang sambil berdiri di belakang Jennifer yang sudah duduk, tersenyum lebar, seperti baru mendapat nilai bagus dalam ulangan matematika. Jennifer juga tersenyum, lalu memberi tempat di sampingnya untuk anak baru itu. ‘Aneh, benar-benar aneh.’ Tapi yang lebih aneh lagi adalah apa yang dilakukan anak baru itu. Tim pasti akan langsung duduk dan melupakan kantong makan siangnya.

Tapi anak baru itu tidak begitu. Ia malah menggeleng, lalu melayangkan pandang, dan berjalan ke meja Tim.

Tidak keberatan kalau aku duduk di sini?” tanyanya.
Begitu saja. ‘Tidak keberatan kalau aku duduk di sini? Seolah-olah seluruh isi kelas delapan ini berebutan ingin duduk bersamaku,’ pikir Tim.
“Ya,” kata Tim. “Maksudku… aku tidak keberatan.”

Maka anak itu pun duduk. Dan ia selalu duduk bersama Tim setiap hari. Sampai mereka menjadi sahabat. Benar-benar sahabat. Tim belum pernah mempunyai teman karib, tapi Jeff – anak baru itu – mengundang Tim datang ke rumahnya, mengajaknya bepergian bersama keluarganya, bahkan mengajak Tim ikut hiking. Benar – Tim ikut hiking.

Anehnya… suatu hari Tim merasa tidak terlalu gemuk lagi. ‘Mungkin karena sering hiking,’ pikirnya. Dan anak-anak lain mulai suka bicara padanya, mengangguk padanya kalau berpapasan di lorong, bahkan bertanya padanya tentang tugas-tugas sekolah dan sebagainya. Dan Tim juga bicara pada mereka. Ia tidak lagi seorang penyendiri.

Suatu hari, ketika Jeff duduk bersamanya di meja, Tim bertanya, “Kenapa dulu itu kau duduk bersamaku? Bukankah Jen minta kau duduk bersamanya?”
“Memang, tapi dia tidak membutuhkan aku.”
“Membutuhkanmu?”
“Kau yang membutuhkanku.”
“Aku?”
Tim berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan ini. ‘Benar-benar pembicaraan konyol,’ pikirnya.
“Kau duduk sendirian,” Jeff menjelaskan. “Kau kelihatan kesepian dan takut.”
“Takut?”
“Ya. Takut. Aku kenal betul ekspresi itu. Aku dulu juga begitu.”
Tim tak percaya.
“Mungkin kau tidak memperhatikan, tapi aku tidak punya tampang ganteng,” kata Jeff. “Di sekolahku yang dulu, aku duduk sendirian. Aku takut mengangkat wajah, kalau-kalau orang-orang menertawakanmu.”
“Kau?” Tim tahu pertanyaannya kedengaran bodoh, tapi tak bisa ia bayangkan Jeff duduk sendirian. Anak itu begitu mudah bergaul.
“Ya. Lalu seorang teman membantuku menyadari bahwa aku sendirian bukan karena hidungku atau telingaku. Aku sendirian karena aku tak pernah tersenyum atau menaruh minat pada orang-orang lain. Aku begitu tenggelam dengan diriku sendiri, sehingga aku tidak pernah menaruh perhatian pada orang lain. Aku begitu tenggelam dengan diriku sendiri, sehingga aku tidak pernah menaruh perhatian pada orang lain. Itu sebabnya duduk bersamamu. Supaya kau tahu bahwa ada yang peduli padamu. Jennifer sudah tahu itu.”
“Oh, ya, dia memang tahu,” kata Tim sambil mengawasi dua anak lelaki yang berebutan duduk di dekat Jennifer. Tim dan Jeff tertawa.
‘Senang rasanya bisa tertawa, dan belakangan ini aku banyak tertawa,’ pikir Tim.
Lalu Tim menatap Jeff. Dan benar-benar “melihatnya”. ‘Dia tidak terlalu jelek,’ pikir Tim. ‘Memang tidak tampan, tapi juga tidak jelek. Jeff adalah temanku.’

Pada saat itulah Tim menyadari bahwa ia baru kali ini melihat Jeff dengan sungguh-sungguh. Beberapa bulan yang lalu, yang dilihatnya hanyalah seorang anak berhidung aneh dan bertelinga gajah. Sekarang ia melihat Jeff. Benar-benar melihatnya.

(Marie P. McDougal – Chicken Soup for the Kid’s Soul)

Bunga Cantik dalam Pot yang Retak

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal di lantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang di musim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.

Aku rasa mungkin karena wajahku .. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…”

Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat.”Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. “Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ke tubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya di kamar anak2. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal di sini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak di kursi.”Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu.”

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai…

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. “Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!” Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,”Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki.”

Tapi temanku merubah cara pikirku. “Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu,” ia coba terangkan, “dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya di taman.”

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu di surga. “Hah, yang ini luar biasa bagusnya,” mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu.” Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di dalam badan kecil ini.” Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, di dalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau peduli.. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.

Your failure is not a reason for GOD to stop loving you”. people won’t remember what you say, people won’t remember what you do. but people will remember how you made them feel

Jack, 13 April 2005

(Renungan) 4 Lilin

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.”
“Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi.”
“Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.”
“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
“Akulah HARAPAN.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

(Lea…@yahoo.com)

(Anugerah Hari Ini) Melintas di Atas Rel

Betapa senangnya dulu , ketika saya dapat melihat kereta melintas di rel-nya. Apalagi dapat menaikinya dan ikut dalam perjalannya. Serasa baru kemarin aku suka naik di atapnya dan bergantung di sisi pintunya yang terbuka jika aku menumpang kereta rel diesel. Angin yang menerpa tubuh terkadang menyegarkan membawa kepada suatua suasana yang lain dalam suatu perjalanan. Menentang angina dan terus berjalan terbawa oleh lajunya kereta yang bergerak secepatnya di atas 110 km/jam.

Dikarenakan kurang hati-hati, selalu menimbulkan suatu kejadian yang tidak selalu kita inginkan yaitu “KECELAKAAN”. Baik saat menumpang kereta, terakhir terberita belasan orang terkena stroom. Saat mereka, para penumpang hendak memulai harti kerja mereka. Dengan terpaksa harus menggunakan fasilitas yang salah. Hanya karena untuk mengejar waktu. Mengejar waktu untuk dapat ke tempat kerja. Mengejar waktu untuk bekerja. Mengejar waktu untuk mendapatkan hasil dari bekerja. Mengejar waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Karena waktu harus dikejar dan dapat menjadi masalah dan masalah terus menerus, apakah akan selalu begitu dalam suatu kehidupan anak manusia?

Tadi pagi, aku melintas jalan yang lain. Jalan yang melintas di rel kereta. Lintasan rel kereta tanpa penjaga. Sebenarnya aku juga mengejar waktu; akan tetapi entah bagaimana bisa aku dapat berhenti dahulu sebentar terdiam. Dan dalam hitungan beberapa detik. Melintaslah kereta cepat “express”. Melintas dengan lincah di atas relnya……

Aku terdiam sejenak dalam batinku …… Apa yang terjadi bila aku terus mengejar waktu dan melintas rel kereta tersebut dan dalam beberapa detik, aku tak dapat membayangkan apa yang terjadi.

Setiap waktu bukan kita yang menentukan; setiap waktu bukan kita yang merencanakan; setiap waktu bukan milik kita sendiri. Sang Pencipta waktulah yang memiliki waktu tersebut. Dengan demikian kepada Sang Pencipta kita harus berdiam diri dalam waktu untuk-NYA.

Waktu untukNYA adalah waktu yang hanya dihabiskan hanya berdua dengan Sang Pencipta. Waktu yang sangat khusus dan khusuk. Sehingga hubungan dengan Sang Pencipta menjadi indah, seindah apa yang telah diciptakan bagi kita. Kita menyerahkan segala permasalahan diri hanya kepada Sang Pencipta dan memohon kepadaNYA untuk menyelesaikan bagi kita dengan indah dan tepat pada waktu-NYA.

Kita dapat mencurahkan segala cerita hati, keinginan jiwa dan apalagi yang lain tanpa kita merasa curiga untuk dibocorkan segala urusan pribadi kita kepada orang lain. Karena Sang Pencipta selalu menampung seluruh permasalahan aku, kamu dan kita semua anak manusia dan tidak pernah mengeluh seperti kita yang selalu lelah dan lelah bila kita sudah melalui batas. Karena Sang Pencipta selalu melintas batas, melintas di atas rel kehidupan kita dan meminta untuk kita dapat diam sejak dan membagi waktu-NYA bersama-sama.

Ingatlah waktu adalah bukan milik sendiri, waktu adalah milik Sang Pencipta dan kita harus membagi waktu dengan-NYA.

Bejana Pilihan

Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia, manakah yang akan terpilih?
“Pilihlah aku,” teriak bejana emas,”Aku mengkilap dan bercahaya.Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!”

Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi.
“Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu.”

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga.
Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca.
“Sini! Sini!” teriak bejana itu, “aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku.”
“Lihatlah aku!”, panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu.”

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah,berdiri dengan teguh.
“Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan,bukan untuk roti.”

Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat.Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu.
Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku.
Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu.”

Demikianlah halnya dengan Tuhan. Ia mencari orang-orang yang rendah hati dan mau berjalan menurut kehendak dan kemauan Tuhan.
Dan tentunya orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.

(fransisca.erlinasari@…)

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???