Pujian yang Membangkitkan Semangat

Seorang pejabat pemerintah dinasti Tang (618-907) yang berpangkat tinggi bernama Leou Bei, yang juga seorang sarjana terkenal dalam kesusastraan klasik, diturunkan pangkatnya menjadi mayor dan ditugaskan ke daerah terpencil dan tandus, di mana orang tinggal berdampingan dengan penduduk asli. Kebudayaan dan tingkat kehidupan penduduk asli benar2 berbeda dan sangat primitif.

Suatu hari, putra kepala suku setempat, yang selama empat tahun telah mengabdikan dirinya untuk mempelajari kesusastraan, meski berprestasi sedang2 saja, dengan rendah hati bertandang ke kediaman Leou Bei dan menyajikan beberapa karya terbaiknya. Dia meminta pendapat sang mayor. Seraya membaca setiap karya dengan seksama, mayor baru ini jelas2 tampak puas. Pertama-tama dia memuji tinggi2 artikel yang biasa2 saja itu dan kemudian memberikan beberapa saran yang membangun. Dengan rasa hormat yang dalam, sang tamu secara antusias berterima kasih kepada si mayor dan pulang.

Salah seorang asisten mayor itu, yang sedang berdiri di dekatnya dan melihat karya2 itu, mengetahui kalau pujian itu tidak selayaknya diberikan. Karena merasa penasaran, dengan sopan dia bertanya, “Tuan, saya tidak mengerti. Jika saya boleh bertanya, mengapa anda tidak memberikan pendapat anda yang sebenarnya mengenai karya2 kelas tiga tersebut?”

Kamu tahu.” Tuan itu terdiam, merenung sejenak,, dan kemudian menjawab dengan tenang. “Ini adalah daerah yang kurang berkembang. Kita tidak seharusnya menggunakan ukuran kesusastraan kita yang cukup maju untuk mengukur kemampuan mereka. Kita harus menilai mereka menurut situasi mereka dan yang sepantasnya. Anak muda itu, yang ayahnya seorang kepala suku yang buta huruf, telah belajar sangat keras tanpa bantuan seorang guru. Dia menunjukkan keberanian untuk bertemu dengan saya dan melihat artikel2nya. Saya tidak seharusnya membuatnya kecewa. Setelah menerima komentar2 saya yang mendukung, ia akan dengan tekun mengikuti saran2 saya. Teman2 sebayanya akan terkesan dan mengikutinya. Saya harus mendorongnya untuk tetap terus mempelajari kebudayaan kita, yang akan menguntungkan baik bagi dirinya sendiri maupun negaranya. Pendidikan dapat memperluas wawasan, mengurangi salah komunikasi, dan menghindarkan masalah2 di masa depan. Sebagai konsekuensinya, ini akan melenyapkan tingkat perselisihan dan konflik di antara pendatang baru dan penduduk asli. Dalam jangka panjang hal ini secara positif akan penting bagi ketentraman dinasti kita. Mengapa saya harus bersikap angkuh dan mengecam secara keras jika tak ada ruginya bagi saya untuk memberikan pujian saya yang layak untuk diterima?”

Asisten mayor itu benar2 terkesan dengan wawasan tuannya. Saran2 akan diterima secara lebih baik jika didahului dengan pujian2 yang bersifat umum daripada kritikan yang bermaksud baik, yang dapat menyinggung atau mengecilkan hati seseorang.

(From Wisdom’s way by Walton C.Lee)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???