Benar-Benar Melihat

Hidungnya pesek sekali, seperti pernah jatuh dari gendongan ibunya ketika masih bayi. Telinganya dua kali – atau mungkin malah dua setengah kali – terlalu besar untuk ukuran kepalanya. Dan matanya! Matanya menonjol seperti mau keluar dari rongganya. Tapi Tim mesti mengakui, pakaian anak itu bagus. Namun tetap saja anak itu anak paling jelek yang pernah dilihatnya.

Tapi kenapa anak baru itu bisa kelihatan begitu akrab dengan Jennifer Lawrence? Ia bersandar di locker Jennifer, seakan-akan mereka berdua sahabat karib. Jennifer adalah seorang cheerleader, juga salah satu anak perempuan paling oke di sekolah. Kenapa gadis itu tersenyum pada si anak baru, bukannya mengerutkan hidung seperti yang ia lakukan kalau melihat Tim? ‘Aneh,’ pikir Tim. ‘Benar-benar aneh.’

Saat makan siang, Tim sudah lupa tentang anak baru itu. Ia duduk di mejanya yang biasa – di meja sudut, sendirian. Tim seorang penyendiri. Wajahnya tidak sejelek anak baru itu, hanya ia agak gemuk dan berkesan kuper. Tidak banyak yang mau bicara dengan Tim, tapi ia sudah terbiasa. Ia telah menyesuaikan diri dengan keadaannya. Ia sudah memakan sandwich mentega kacanya separuh. Sandwich itu juga diberinya saus tomat (ia selalu menambahkan saus tomat pada semua makanannya). Ketika ia mengangkat wajah, kembali ia melihat anak baru itu, sedang membawa nampan makan siang sambil berdiri di belakang Jennifer yang sudah duduk, tersenyum lebar, seperti baru mendapat nilai bagus dalam ulangan matematika. Jennifer juga tersenyum, lalu memberi tempat di sampingnya untuk anak baru itu. ‘Aneh, benar-benar aneh.’ Tapi yang lebih aneh lagi adalah apa yang dilakukan anak baru itu. Tim pasti akan langsung duduk dan melupakan kantong makan siangnya.

Tapi anak baru itu tidak begitu. Ia malah menggeleng, lalu melayangkan pandang, dan berjalan ke meja Tim.

Tidak keberatan kalau aku duduk di sini?” tanyanya.
Begitu saja. ‘Tidak keberatan kalau aku duduk di sini? Seolah-olah seluruh isi kelas delapan ini berebutan ingin duduk bersamaku,’ pikir Tim.
“Ya,” kata Tim. “Maksudku… aku tidak keberatan.”

Maka anak itu pun duduk. Dan ia selalu duduk bersama Tim setiap hari. Sampai mereka menjadi sahabat. Benar-benar sahabat. Tim belum pernah mempunyai teman karib, tapi Jeff – anak baru itu – mengundang Tim datang ke rumahnya, mengajaknya bepergian bersama keluarganya, bahkan mengajak Tim ikut hiking. Benar – Tim ikut hiking.

Anehnya… suatu hari Tim merasa tidak terlalu gemuk lagi. ‘Mungkin karena sering hiking,’ pikirnya. Dan anak-anak lain mulai suka bicara padanya, mengangguk padanya kalau berpapasan di lorong, bahkan bertanya padanya tentang tugas-tugas sekolah dan sebagainya. Dan Tim juga bicara pada mereka. Ia tidak lagi seorang penyendiri.

Suatu hari, ketika Jeff duduk bersamanya di meja, Tim bertanya, “Kenapa dulu itu kau duduk bersamaku? Bukankah Jen minta kau duduk bersamanya?”
“Memang, tapi dia tidak membutuhkan aku.”
“Membutuhkanmu?”
“Kau yang membutuhkanku.”
“Aku?”
Tim berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan ini. ‘Benar-benar pembicaraan konyol,’ pikirnya.
“Kau duduk sendirian,” Jeff menjelaskan. “Kau kelihatan kesepian dan takut.”
“Takut?”
“Ya. Takut. Aku kenal betul ekspresi itu. Aku dulu juga begitu.”
Tim tak percaya.
“Mungkin kau tidak memperhatikan, tapi aku tidak punya tampang ganteng,” kata Jeff. “Di sekolahku yang dulu, aku duduk sendirian. Aku takut mengangkat wajah, kalau-kalau orang-orang menertawakanmu.”
“Kau?” Tim tahu pertanyaannya kedengaran bodoh, tapi tak bisa ia bayangkan Jeff duduk sendirian. Anak itu begitu mudah bergaul.
“Ya. Lalu seorang teman membantuku menyadari bahwa aku sendirian bukan karena hidungku atau telingaku. Aku sendirian karena aku tak pernah tersenyum atau menaruh minat pada orang-orang lain. Aku begitu tenggelam dengan diriku sendiri, sehingga aku tidak pernah menaruh perhatian pada orang lain. Aku begitu tenggelam dengan diriku sendiri, sehingga aku tidak pernah menaruh perhatian pada orang lain. Itu sebabnya duduk bersamamu. Supaya kau tahu bahwa ada yang peduli padamu. Jennifer sudah tahu itu.”
“Oh, ya, dia memang tahu,” kata Tim sambil mengawasi dua anak lelaki yang berebutan duduk di dekat Jennifer. Tim dan Jeff tertawa.
‘Senang rasanya bisa tertawa, dan belakangan ini aku banyak tertawa,’ pikir Tim.
Lalu Tim menatap Jeff. Dan benar-benar “melihatnya”. ‘Dia tidak terlalu jelek,’ pikir Tim. ‘Memang tidak tampan, tapi juga tidak jelek. Jeff adalah temanku.’

Pada saat itulah Tim menyadari bahwa ia baru kali ini melihat Jeff dengan sungguh-sungguh. Beberapa bulan yang lalu, yang dilihatnya hanyalah seorang anak berhidung aneh dan bertelinga gajah. Sekarang ia melihat Jeff. Benar-benar melihatnya.

(Marie P. McDougal – Chicken Soup for the Kid’s Soul)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???