Penjajahan Terselubung

neh email bagus yg lama kesimpan di inbox

Tau ga seh looo……

Pemilik 65 persen saham ABC adalah HJ Heinz (AS). Sariwangi, Bango, dan Taro sudah 100 persen milik Unilever (Inggris). Aqua, 74 persen dikuasai Danone (Prancis). Helios dan Nyam-Nyam total dipegang Cambell (AS). Ades milik Cocacola. SGM lewat Sari Husada 82 persen dimiliki Numico (Belanda).

Kalaupun Anda tidak menyadarinya, tak perlu khawatir, Anda tidak sendirian. Banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa ternyata produk-produk terkenal bermerek lokal itu sudah jatuh ke tangan asing lewat langkah akuisisi, entah ekuisi total atau mereknya saja.

Dan kondisi seperti itu bukan cuma di bidang barang konsumsi (consumer goods). Nyaris di semua bidang usaha, asing sudah mengangkanginya. Ibaratnya, si asing ini sudah sempurna dalam mengisi sendi-sendi kebutuhan hidup kita. Mulai dari suprastruktur sampai finansial.

Anda membangun rumah, misalnya, maka Anda butuh semen. Mau semen Tiga Roda bikinan Indocement maupun Semen Gresik, semuanya sudah dikuasai asing. Indocement dipegang Heidelberg Jerman, sedangkan Semen Gresik oleh Cemex Meksiko.

Begitu juga saat berhubungan dengan bank. BCA sudah digenggam konsorsium asing Farallon (meski di dalamnya ada Grup Jarum). Danamon juga sudah melayang ke asing, saat ini dikuasai Asia Financial Indonesia (AFI), yang merupakan konsorsium Deutsche Bank dan Temasek Singapura.

Barangkali selama ini Anda merasa sudah nasionalis karena sebagian kebutuhan hidup memakai produk bermerek lokal. Tapi kuburlah saat ini rasa nasionalis itu. Merek lokal sudah tidak jaminan lagi dimiliki oleh orang lokal. Merek lokal yang skalanya sudah menasional, banyak yang berpindah tangan.

Memang, ada yang berpendapat bahwa asing tidaklah masalah, toh mereka tetap membayar pajak, membuka lapangan kerja, dan menumbuhkan perekonomian nasional. Betul, tapi masalahnya, apakah kita tidak nelangsa kalau semua produk yang dikonsumsi demi keuntungan asing.

Repatriasi (pemulangan) keuntungan yang dibawa oleh perusahaan asing ke negeri masing-masing sangatlah besar. Belum ada data resmi. Tapi, ada yang memperkirakan bahwa per tahun repatriasi ini bisa mencapai belasan miliar dolar. Taruhlah 10 miliar dolar saja, itu berarti sudah Rp 85 triliun.

Kalau saja perusahaan asing tersebut memang sejak awal menanamkan modal lewat PMA (penanaman modal asing) tak begitu masalah. Di kasus ini, perusahaan asing tersebut tinggal membeli perusahaan lokal yang pasarnya sudah jadi dan tinggal memetik keuntungan.

Kecenderungan itu klop dengan kebijakan “Meganomics” yang bermental pedagang. Ada barang bagus dijual. BCA bagus dijual. Indosat bagus dilego. Dan masih banyak yang lain. Pada gilirannya, nanti kita akan kerepotan karena begitu banyak dolar yang keluar dari sini akibat dari repatriasi ini.

Jika Anda memakai atau mengonsumsi merek lokal, cari tahulah siapa pemiliknya. Dan, kelak akan semakin sering Anda berguman, “Oo … asing to?” (r_rizalino@)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Ini Beta

    Y!M status:
    JNE TULEHU
    (DH. WARNET PONDOK.NET)
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???