Pentingnya Arti Hubungan Keluarga

Ketrampilan berkomunikasi menjadi terlatih bila anak biasa bergaul dengan keluarga besar yang memiliki beragam tutur. Keluarga dapat menjadi benteng bagi banyak orang. Lewat keluarga nilai-nilai luhur biasa ditradisikan dan diturunkan. Keluarga dapat berfungsi menahan dan menetralisir banyak pengaruh buruk dari lingkungan. Dukungan dan sebaliknya pun dapat diperoleh anak dari keluarganya. Kini ikatan keluarga seolah-olah mengendur tergantikan dengan seabrek aktivitas pendidikan dan sosialisasi yang dibebankan pada anak. Nilai-nilai yang diturunkan dala keluarga terasa dikecilkan artinya. Benarkah demikian? Dan seperapa penting ikatan keluarga dalam mendukung pengembangan kualitas kepribadian seorang anak?

Henny Sitepu Supolo SS, MA pakar pendidikan anak, berpendapat bahwa sebelum adanya keluarga besar, keluarga merupakan inti elemen penting untuk dikenal dan diterima anak. „Hubungan kuat berlandaskan keinginan berkomunikasi timbal balik merupakan hal penting dalam lingkungan ini“ katanya. Perkenalkan anak terlebih dulu pengenalan pohon keluarga yang masih satu kakek dan nenek, paman dan bibi, adik dan kakak, serta sepupu-sepupu. Setelah itu baru keluarga lainnya yang berasal dariu satu buyut. Tahapan ini penting untuk pemahaman anak, pada dasarnya kedekatan keluarga dan prioritas sesungguhnya banyak ditentukan oleh tahapan tersebut“ ujar Henny.

Menuru Henny, biasanya kedekatan dalam keluarga besar juga sangat tergantung dari kemampuan berkomunikasi kedua belah pihak. ’ Bukan hanya dari anak-anak tapi juga dari pihak paman, bibi atau para sepupu itu“ katanya. Bahkan, sebagian orang menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dalam keluarga. Alasannya, selain untuk memudahkan berkomunikasi, juga untuk mendekatkan emosi anak pada budaya dan akar tradisinya.

Dalam pengenalan keluarga besar ini, Henny mengungkapkan, tidak pernah memaksakan anak-anak untuk datang ke pertemuan keluarga kecuali saat Lebaran dan kegiatan keagamaan yang dilakukan bersama keluarga besar. Baginya acara ulangtahun atau arisan keluarga bukan keharusan untuk didatangi bersama anak. Hal ini disepakati karena merasa bahwa kedekatan bukan berasal dari pertemuan yang diapksakan, tapi akan datang langsung dari hati anak-anak itu sendiri. Biasanya anak yang terbiasa dekat dengan keluarga besarnya akan nyaman ketika bergaul dengan orang yang lebih tua“. Ini salah satu hal positif dari kedekatan keluarga besar. Ketrampilan berkomunikasi memang sangat dilatih saat anak dibiasakan bergaul dengan keluarga besar yang memiliki beragam tutur.

Penanaman nilai memegang peranan ketika anak berinteraksi dengan keluarganya seperti sikap saling menghargai, mencintai damai dan menghargai perbedaan adalah beberapa diantaranya. Henny mengatakan kemalasan anak karena tidak biasa bergaul dengan keluarga besarnya sesungguhnya bisa disamakan dengan ketidaknyamanan anak berada di lingkungan baru. “Bagaimana anak tidak bosan bila ia harus duduk diam dan tidak boleh membantah meski tidak setuju dengan apapun yang didengarnya. Atau bagaimana tidak akan gelisah bila dalam jangka waktu lama, duduk manis merupakan keharusan untuk lulus kesopanan” paparnya.

Namun pada anak juga bisa diberikan pemahaman dan semacam tips untuk menghadapi kondisi ini. Antara lain, tidak perlu terlalu lama berada dan duduk diam, segera mencari kegiatan yang kira-kira bisa mengalihkan kebosanannya. Umpamanya, mengajak bermain halma, kartu dan sebagainya. “Ketika anak kami masih kecil, kami tidak pernah mengajak mereka ke acara arisan keluarga hanya karena mereka sungguh menjadi bosan tidak memiliki kegiatan apapun selain duduk menunggu pertanyaan dari orangtua. Meski kami sudah membawakan buku cerita dan buku gambar, tetapi berada di arisan keluarga dimana teman sebaya sangat jarang dan bahkan tidak ada, menjadi pilihan terakhir dalam pengisian akhir pekan mereka” paparnya.

Makin dewasa anak juga bisa merasakan perbedaan adat antara kelompok keluarga ayah dan ibunya. Atau perbedaan menghadapi beberapa paman, bibi, kakek, nenek atau sepupu. Dengan merasakan perbedaan, sesungguhnya anak juga akan melatih kemampuannya untuk bisa berkomunikasi secara efektif dengan siapapun yang dihadapinya. Dan ini juga merupakan salah satu keuntungan secara langsung bila kita bisa membiasakan anak-anak mengenal keluarga besarnya’ ujar Henny.

Henny mengaku, memberi kebebasan pada kedua anaknya untuk tidak mengikuti acara keluarga besarnya. Mereka boleh tidak hadir asal alasan yang mereka paparkan bisa saya terima. Dengan demikian saya tidak serta merta memaksa mereka hadir dalam acar keluarga tersebut. Diakuainya, anaknya telah memiliki komunitas sendiri kadangkala merasa lebih asyik bersama dengan teman-temannya daripada bertemu dengan keluarga yang berbeda generasi ini. Namun, Henny berpendapat, bertemu dengan keluarga besar tetap perlu bagi kedua anaknya.

Orangtua menjadi model

Psikolog dari UNIKA Atmajaya, Theresia Indira Shanti, Psi, M.Si berpendapat, orangtua mempunyai wewenang memilah nilai-nilai yang ditanamkan pada anak. Misalnya boleh berbeda pendapat dalam keluarga asal tetap menghargai dan menjaga sopan santun. Orangtua harus memiliki strategi agar anaknya berprilaku sesuai nilai-nilai itu. Misalnya, jika orangtua ingin anak-anak menyalami orang yang lebih tua sebagai prilaku maka sebaiknya anak memiliki nilai menghormati yang lebih tua. ” Orangtua memberi contoh dengan menghormati om, tante, nenek atau kakek dengan menyapa dan memberi perhatian seperti ‘nenek sudah makan atau belum?’. Kata Shanti. Ia menyarankan untuk menghindari membicarakan anggota keluarga di depan anak. “Jadi orangtua sebaiknya memberi contoh kepada anak, anak harus melihatnya sedini mungkin,” kata konsultan pendidikan di beberapa sekolah ini.

Menurut Shanti, ada anak yang tidak mengenal keluarga besarnya dengan baik atau mungkin mengenal tapi tidak dekat dan merasa asing. Ini bisa menimbulkan kekakuan pada hubungan kekerabatan. Untuk menghindarinya, libatkan si anak memasuki lingkungan keluarga besar. ”Sering-seringlah membawa anak menemui keluarga besarnya misalnya dalam acara keluarga. Lebih kreatif lagi jika Anda mengumpulkan anak dengan sepupunya untuk berlibur bersama, katanya.

Shanti menambahkan, rasa kaku yang ditimbulkan anak ketika berinteraksi dengan kerabatnya tergantung kepribadian si anak sendiri dan kepribadian kerabat. ”Sebaiknya orangtua mengenal karakter dan kebutuhan misalnya anak lebih suka dipeluk ketika berkenalan dengan tante dan omnya atau anak yang memerlukan waktu sebelum berbaur dengan sepupunya. Sebelumnya anak harus dipersiapkan terlebih dahulu, misalnya ‘nanti kita datang ke tempat tante A kamu harus berhati-hati ya soalnya di rumah tante banyak barang yang mudah pecah’ atau beritahu sebelumnya untuk meminta anak memberi salam kepada saudara-saudaranya. Ceritakan secara detail situasi yang akan dihadapi anak sebisa mungkin. Tujuannya agar anak merasa ‘siap’ dan tidak kaget memasuki lingkungan keluarga besar.

Mendekati Akar Budaya

Shanti mengatakan, anak yang kehilangan hubungan (missing link) dengan hubungan kekerabatan dikarenakan anak belum mengerti pentingnya tradisi keluarga. Misalnya anak lahir dan berkembang di Jakarta, orangtua tidak mengenalkannya pada tradisi atau budaya dari daerah asalnya. Jika orangtua ingin anak menghargai tradisinya, maka orangtua memberi contoh dan menstimulasi lingkungan keluarga misalnya dengan menggunakan bahasa daerah di saat-saat tertentu atau mengajak anak mengunjungi kampung halamannya. Atau kenalkan kebiasaan tertentu yang dianut tradisi tersebut misalnya bersuara dengan tone rendah atau berpakaian sopan. Sehingga anak akan berusaha beradaptasi dengan lingkungan keluarga besarnya. Lihat juga kondisi lingkungan keluarganya, ada yang masih bisa menerima prilaku yang ‘berbeda’ ada juga yang kurang menerima.

Mengajarkan bahasa daerah ke anak memang susah-susah gampang. Jika anak menolak ‘mengenal’nya, berikan pemahaman sama halnya bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa pengantar internasional, bahasa daerah juga berfungsi sebagai bahasa pengantar ketika berkumpul dengan keluarganya yang masih berada di daerah. “ Ciptakan lingkungan yang membuat anak termotivasi sendiri dan timbul rasa kecintaan terhadap nilai tradisi keluarganya,”papar Shanti.

Ajak anak perhatian (care) pada kerabatnya misal ketika om-tante atau sepupu berulang tahun, minta anak membuat kartu ucapan atau mencari kado bersama. Ketika kerabat ada yang sakit, Anda bisa mengajak anak menjenguk bersama-sama. Lambat laun anak akan sadar bahwa ada keluarga besar yang berhubungan dengannya di luar lingkungan intinya.

Yang penting anak mengadopsi nilai-nilai yang dikehendaki oleh keluarga sendiri. Sehingga kelak anak mengenal dirinya dengan baik, seperti latar belakang keluarganya terutama kedua orangtua dan bagaimana hubungan kedua keluarga yang berbeda latar belakang dipersatukan. Alhasil anak bisa mempelajari positif dan negatif berdasarkan pengalaman keluarganya. Tak sekedar itu, saat anak tengah mencari identitas diri, mereka dapat menentukan strategi apa yang harus dilakukan kelak. “Anak mengantisipasi untuk perubahan kearah positif sehingga bisa lebih mudah beradaptasi dengan perubahan atau lingkungan tertentu seiring pertambahan usianya,”kata Shanti.

Perbedaan generasi antara cucu dan nenek memang bisa dikatakan cukup jauh. Namun bukan berarti anak tidak bisa berinteraksi hangat dengan mereka. Anda bisa mencontek tips dari psikolog Theresia Indira Shanti, agar cucu dekat dengan nenek dan kakeknya, Umumnya nenek dan kakek memang ingin dekat dengan cucunya. Ada beberapa yang membawakan sesuatu untuk mendekati cucunya. Sebenarnya tidak ada masalah, namun anak bisa jadi kecewa ketika keduanya ‘lupa’ membawakannya sesuatu. Lebih baik berikan kehangatan dengan memeluk si anak ketika bertemu. Anak membutuhkan sikap sensitive dan responsif dari orang lain, sehingga mereka merasa dihargai dan diakui keberadaannya.”Itupun bisa dilakukan jika anak memang tidak dibiasakan diberi stimulasi dengan materi,” ujar Shanti.

Kenali kebutuhan anak untuk beradaptasi. Seperti setelah beberapa hari lamanya tidak bertemu kakek-nenek, anak kembali merasa asing. Ada anak yang memerlukan waktu dengan melihat-lihat atau nyaman lebih dulu lingkungan rumah kakek-nenek sebelum menyapa. Coba pahami dan hargai cara anak, komunikasikan ‘kebiasaan’ anak pada kakek-nenek.

Umumnya anak masih bersifat egosentris, sehingga memerlukan waktu agar anak perhatian dengan orang lain. Untuk membentuk kasih sayang pada diri anak, tunjukkan terlebih dulu bahwa Anda memang perhatian dan peduli misalnya dengan menelepon keduanya setiap hari, menulis surat. Sertakan anak berkomunikasi dengan keduanya. Bagi cerita dengan anak mengenai kakek-neneknya, misal ketika anak pulang sekolah, ‘eh tadi kakek cerita katanya hari ini akan mulai diet lho’. Dari situ timbul rasa keingintahuannya, sehingga timbul ‘kedekatan’ pada anak melalui cerita Anda. (Inspiredkids)

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Ini Beta

    Y!M status:
    WARNET PONDOK.NET
    Jl. Raya Tulehu, No. 26
    Dsn Pohon Mangga, Tulehu
    A m b o n

    eFeS : Rad Marssy
    eFBi : Rad Marssy
    CopyLeft Notice:
    Barangsiapa dengan sengaja mengutip, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, meng-copy paste kepada umum suatu bagian dari blog ini diwajibkan kepadanya untuk menyertakan sumber asli bagian yang dimaksud. Dilarang membawa kamera, handycam, tape recorder, atau alat perekam lainnya.
    (hehe5x... srius amat bacanya).

    NO SMOKING BLOG...!!!

    STORY OF EARTH...???
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.